Ketua Kelompok Mitra Bahari, Zabur (43), mengatakan, kejadian angin kencang yang menerjang pendopo wisata itu sekitar pukul 10.15 WIB, Senin (25/4/2011). Terjangan angin yang cukup kuat dari arah pantai, langsung merobohkan tiang pendopo yang sebelumnya sudah retak-retak.
"Bruak. Suara ambruknya atap pendopo cukup keras. Seketika itu, muncul teriakan minta tolong dari bawaha reruntuhan atap dan dinding pendopo," ujar Zabur yang ditemui di dekat reruntuhan pendopo wisata.
Zabur dan belasan orang nelayan yang sedang menambatkan perahu usai menanam bibit rumput laut, langsung berlarian menuju reruntuhan bangunan pendopo.
"Saya menghitung ada sekitar 25 orang yang jadi korban tertimpa reruntuhan dinding dan atap pendopo. Satu orang bernama Buk Ri ditemukan meninggal dengan kepala berlumuran darah," jelasnya.
Zabur yang kebetulan membawa ponsel, langsung menelepon Puskesmas Pademawu dan Polsek Pademawu. Tak kurang dari 10 menit, polisi dan paramedis berdatangan dan mengevakuasi korban.
"Sebanyak 18 orang dibawa ke rumah sakit karena terluka. Ada yang luka di kepala, ada pula yang patah kaki dan adapula yang dadanya tergores kayu blandar pendopo dan genteng," urainya.
Selain Buk Ri (60) yang meninggal di TKP, sejumlah nama korban luka yang masih diingat Zabur adalah, Buk Rahma, Misnatun, Buk Natun, Nur, Hosey, Buk Marsuki, Asmari, dan Asmaya, "Yang lainnya saya tak ingat mas," aku Zabur.
Zabur mengatakan, pendopo yang roboh di kawasan Pantai Wisata itu terbilang masih baru. Pendopo yang roboh berukuran 8 X 10 M itu dimanfaatkan sebagai gardu pandang. Pendopo itu dibangun sekitar Mei tahun 2005 lalu.
Itu sebabnya, Zabur mengimbau pemerintah agar merawat 10 bangunan gazebo mini di kawasan Pantai Wisata Jumiang. "Jika tidak segera dirawat, bukan tidak mungkin akan membawa korban kembali," tandasnya.
(fat/fat)










































