BKLDK menegaskan, bahwa bahaya laten NII masih menghantui lembaga pendidikan tinggi. Karena masih banyak aktivis atau pentolan organisasi yang akan merekrut anggota baru.
"Aktivis NII masih berkeliaran merekrut anggota di kampus-kampus. Umumnya mereka melakukan gerakan bawah tanah," kata Ketua Badan Eksekutif Koordinator Nasional BKLDK Muhammad Rizqi Awal kepada wartawan melalui siaran persnya, Minggu (24/4/2011).
Rizqi mengaku dirinya pernah terlibat diskusi dengan aktivis NII saat menjalankan misinya merekrut anggota baru di kampus. Karena itu dirinya mengetahui persis sepak terjang mereka. "Aktivis NII masih bebas berkeliaran," tegas mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung ini.
Dia mengaku informasi ini didapatkan dari anggota BKLDK yang masuk ke dalam jaringan NII. Namun, untungnya segera sadar dan memilih keluar dari organisasi itu. "Aktivitas mereka sudah lama, tapi penegak hukum seakan lambat untuk bertindak," bebernya.
Dia menegaskan BKLDK menggelar Rakernas ke V di Kota Malang yang dihadiri perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.
Dalam pertemuan itu juga digunakan untuk mengeluarkan pernyataan sikap berbagai persoalan yang berkembang selama ini terkait isu NII, bom Serpong dan bom bunuh diri di Cirebon.
"Kami mengutuk keras pelaku bom bunuh diri di Cirebon dan Serpong sebagai tindakan biadab dan bertentangan dengan ajaran islam," paparnya.
Pihaknya menyerukan kepada semua pihak berwenang agar mengusut tuntas kasus itu. Selain itu kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada terhadap pihak-pihak yang mengaitkan terorisme dengan islam. "Semua elemen harus bersatu melawan propaganda negatif tentang NKRI ini," katanya.
(fat/fat)











































