"Kami serahkan, kasus Rizki ke polisi, karena keluarga sudah melapor," jelas Pembantu Rektor III UMM, Joko Widodo kepada detiksurabaya.com melalui telepon seluler, Rabu (20/4/2011), petang.
Menurut Joko, Mahatir merupakan satu-satunya mahasiswa yang belum mengakui telah bergabung dengan jaringan pelaku pencucian otak. Karena delapan mahasiswa lain, termasuk Agung Arief Perdana Putra (18), telah membeberkan pengakuannya secara tertulis, dan mengikuti pemulihan hingga sembuh.
"Hanya Mahatir yang belum muncul, sejak pertama kasus ini dibongkar Agung," katanya.
Dia berharap, aparat kepolisian bisa segera mengungkap keberadaan mahasiswa asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini. "Semoga cepat ditemukan," harapnya.
Joko tak memungkiri keikutsertaan Mahatir, berawal dari ajakan Agung, keduanya juga telah hijrah ke ibukota. Sesuai dengan permintaan pelaku. Meski begitu, lanjut dia, Mahatir seharusnya kembali, ketika semua rekannya mengakui dan menjalani pemulihan. "Tapi kini dimana keberadaan, kami juga masih mencari," bebernya.
Joko menyatakan, bila delapan mahasiswa sempat menjadi korban pencucian otak telah kembali pulih seratus persen. Dan kini tengah mengikuti ujian. "Semua korban telah mengikuti ujian, artinya mereka telah sembuh," terangnya.
Pihaknya juga terus memantau perkembangan para korban, usai menjalani pemulihan.
Dalam kesempatan itu, Joko juga mengimbau kepada orang tua, untuk merelakan harta ataupun uang yang pernah dimintai korban. Untuk menghilangkan perasaan bersalah korban, karena telah membohongi keluarga.
"Kita minta orang tua ikhlas dan tak mengungkit masalah uang pernah diminta korban," paparnya.
(bdh/bdh)










































