Meski terbukti telah melakukan pembacokan, polisi tidak menahan Salik karena terindikasi gila. Namun, polisi dan pemerintah desa setempat membawa Salik ke rumah sakit jiwa untuk memastikan kondisi kejiwaannya.
Menurut saksi mata, kejadian bermula saat Salik dengan membawa clurit masuk ke rumah Alam. Saat itu Alam bermain sendiri di ruang tamu, sementara ayahnya, Agus Cahyono sedang bekerja dan ibunya, Maghfuroh sedang memasak.
"Saya kira Salik hendak mengembalikan clurit milik ayah Alam. Tapi kemudian saya dengar ibunya berteriak," kata Ulfa Umaro, tetangga korban sekaligus saksi mata kepada wartawan di lokasi, Sabtu (16/4/2011) malam.
Sementara Salik pergi tanpa membawa clurit dan kembali ke rumah orangtuanya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah Alam. "Setelah dengar teriakan, saya lari ke rumah Alam dan melihat cluritnya masih menempel di kepalanya," ujar Ulfa.
Beberapa saat kemudian, warga yang kaget melihat kondisi clurit masih menempel di kepala Alam dan terus mengucurkan darah, warga langsung membawanya ke IRD RSUD Jombang.
Sementara pelaku yang sempat diperiksa di Mapolsek Kesamben, akhirnya dibawa kembali ke rumah orangtuanya. Polisi beserta pemerintah desa setempat akan membawa pemuda tersebut ke rumah sakit jiwa untuk memastika kondisi kejiwaannya.
"Jika dipastikan dia mengalami gangguan kejiwaan, maka tidak bisa diproses secara hukum. Namun sebaliknya jika dia berpura-pura, kita akan tindak sesuai hukum," kata Kasubag Humas Polres Jombang kepada wartawan.
(fat/fat)










































