Pantauan detiksurabaya.com menunjukkan, Kamis (14/4/2011) sore ini, aktivitas pembongkaran genting dilakukan, setelah proses pengosongan dilakukan sejak pagi tadi. Kegiatan ini sehari lebih cepat dari yang sebelumnya direncanakan, yaitu pada tanggal 15 April 2011.
"Jam sebelasan tadi selesai pengosongan. Setelah itu sepertinya langsung dibongkar," kata seorang pedagang bensin eceran yang ada di seberang jalan kediaman Kolonel (Purn) Soerachmad kepada detiksurabaya.com.
Namun sayang, wartawan tak bisa masuk ke halaman rumah yang tengah dilangsungkan pembongkaran tersebut. Seorang pekerja menghalang-halangi wartawan yang akan masuk ke lokasi, dengan alasan tak diijinkan oleh pelaksana pembongkaran.
"Wartawan gak boleh masuk. Saya hanya pekerja disini," kata seorang lelaki di depan pagar seng yang menjadi penutup lokasi.
Sementara kuasa hukum ahli waris Kolonel (Purn) Soerachmad, Emi Puasa Handayani, dikonfirmasi mengenai pembongkaran tersebut tak memberikan banyak tanggapan. Sebaliknya, dia meminta wartawan menghubungi Alwi Muhammad Mubarok secara langsung, dengan memberikan nomor ponsel yang bersangkutan.
"Kalau dibongkar kan sejak awal rencananya memang akan dibongkar. Untuk jelasnya sampeyan hubungi Pak Alwi saja ya, saya beri nomornya," ujar Emi sambil segera mematikan telepon selulernya.
Sedangkan Alwi Muhammad Mubarok, pemilik sekaligus investor dalam alih fungsi bangunan bersejarah tersebut belum dapat dikonfirmasi. Dua kali detiksurabaya.com mencoba menghubungi telepon selulernya, namun tak ada jawaban.
Sebelumnya, rumah Kolonel (Purn) Soerachmad yang berlokasi di Jl KDP Slamet, Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto akan dibongkar oleh ahli warisnya. Rumah itu berada tepat di sebelah selatan Gereja Protestan di Indonesia (GPdI) Imanuel, yang sejak tahun 2004 silam sudah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya oleh BP3 Trowulan.
Di rumah tersebut juga pernah menjadi rapat oleh pasukan TNI AD yang diantaranya diikuti Kolonel (Pur) Soerachmad dan Jendral (Purn) AH Nasution. Kolonel (Purn) Soerachmad yang tercatat sebagai Komandan Brigade S (Soerachmad) di Kediri memang tercatat sebagai perintis pendirian Kodam se Indonesia. Pemkot Kediri sebelumnya berikrar tidak akan menerbitkan izin bila bangunan itu dijadikan lapangan futsal dan pusat bisnis.
(gik/gik)










































