Karena orangtuanya hidup dalam ekonomi pas-pasan, perut Fahmi pun terpaksa dibuatkan lubang untuk buang air besar. Ayah Fahmi, Kusaeri (30) hanyalah pengayuh becak. Sementara untuk menopang hidup sehari-harinya, Sunarmi (22) menjadi buruh tani.
Lubang anus buatan tersebut dibantu oleh Supa'at (56), kakek Fahmi, yang turun tangan mencari hutangan untuk membiayai operasinya.
"Fahmi menjalani operasi anus buatan setelah berumur 4 hari," ujar Supa'at, yang ditemui di rumahnya di Dusun Glugur, Kamis (7/4/2011).
Supa'at mengatakan, setelah 19 hari dirawat setelah operasi di RSU Dr Soetomo Surabaya, akhirnya dibawa pulang paksa lantaran sudah tidak memiliki biaya lagi untuk biaya hidup Kusaeri dan Sunarmi yang mendampingi Fahmi di Surabaya.
Supa'at yang kasihan melihat cucunya tak memiliki anus, akhirnya sambat kepada Ustad Matkur perihal kondisi anus cucunya. Ustad Matkur dikenal sebagai tokoh masyarakat Desa Kodik.
"Ustad Matkur akhirnya menghadap Pak Bupati dan menceritakan kondisi
Fahmi. Saat itu disumbang Rp 1 juta," tutur Supa'at
Meski begitu, bantuan Bupati Pamekasan itu tak bisa menutup biaya operasi anus Fahmi yang diperkirakan cukup besar. Lantaran tidak cukup memiliki biaya, akhirnya Fahmi dibiarkan tanpa anus hingga sekarang.
Kasus yang dialami Fahmi ini pernah dialami Windi Apriliyah (4). Putri kedua pasangan Badri Asmoni (44) dan Kudma (40) warga Dusun Jasaan, Desa Aengbaja Kenek, Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura akhirnya kembali memiliki anus setelah dilakukan operasi di RSU Dr Soetomo Surabaya.
Bagi yang ingin mengulurkan bantuan untuk Fahmi bisa disalurkan melalui 'Baksos untuk Fahmi' yang digalang Detik Surabaya Community (DSC).
(gik/gik)
