Agar tidak dirazia polisi, bandar judi balap kelereng mengelabui petugas dengan meletakkan aneka hadiah. Seperti perhiasan emas, televisi, radio compo dan kipas angin serta setrika listrik.
Jika ada razia, maka panitia adu adu balap kelereng itu akan berkilah jika permainan itu murni adu ketangkasan balap kelereng dan bukan judi.
Selain itu ajang judi yang mulai populer sejak 7 tahun lalu itu, selalu berpindah-pindah tempat. Lantaran selalu berpindah lokasi itulah, polisi kesulitan merazia judi di balik adu balap kelereng itu.
Permainan balap kelereng itu, terinspirasi oleh tradisi kerapan sapi. Itu sebabnya, peserta balap kelereng memberikan nama dan julukan untuk masing-masing kelereng balap. Semisal, Potre Koneng, Morkelap, Putra Petir dan Jokotole.
Untuk pertama kalinya, adu balap kelereng dikenalkan oleh kelompok anak-anak usia SD dan SMP yang tinggal di Jalan Kartini dan Jalan Nugroho. Awalnya, adu balap kelereng digelar untuk mengisi masa liburan sekolah semester 1 tahun ajaran 2003.
Anak-anak yang hidup dengan ekonomi pas-pasan itu, kemudian merancang media balap kelereng yang mirip arena balap mobil Tamiya. Saat itu, mobil Tamiya memang lagi ngetrend. Sayang, harga mobil Tamiya tak terjangkau oleh kantong anak-anak tersebut.
Maka jadilah, kelereng yang biasanya dimainkan diatas tanah, beralih diadu kecepatannya diatas media mirip mobil Tamiya. Sekali start ada 3 butir kelereng yang dilepas dari garis start. Yang menang adalah kelereng yang pertama masuk garis finish mendapat hadiah 2 butir kelereng yang kalah.
Makin lama, permainan adu balap kelereng makin termodifikasi. Media balap kelereng lalu dibuat lebih panjang dan berkelok. Panjang media balap berkelok bisa mencapai 4 meter.
Sayangnya, adu kelereng milik anak-anak itu disalahgunakan oleh kalangan bapak-bapak. Tiga tahun terakhir ini, adu balap kelereng dijadikan ajang judi. Setiap ada momen adu balap kelereng, dipastikan ada intel polisi. Jika tidak tercium bau judi dan murni permainan balap kelereng, maka arena itu ditinggalkan intel polisi.
Namun, kali ini polisi yang cukup lama mengincar ajang judi kelereng di Jalan Gladak Besar mencium aroma judi. Begitu meyakini ada perjudian, satu peleton Tim Gabungan Resintel dan Samapta merangsek ke lokasi. Seluruh orang yang berada di ajang judi kelereng ditangkap.
Namun karena kekurangan personel, belasan orang yang diduga ikut berjudi berhasil kabur. Lokasi yang cukup tersembunyi karena berada diatas bantaran sungai dan tertutup pohon bambu, menyulitkan polisi menangkap seluruh peserta adu balap kelereng. Polisi hanya menangkap 16 orang tersangka dan mengamankan media balap kelereng.
Para tersangka itu masing-masing berinisial Ar (28), Um (32), Wj (42), Ad (22), Ah (28), Ed (32), Slm (33), Hnd (24), Ddk (31), Scp (21), Hl (22), Fr (26), Ars (32), And (33), Rtw (43) dan Fnd (45). Seluruh tersangka warga Kota Pamekasan.
Selain mengamankan 16 tersangka, polisi juga mengamankan 12 unit sepeda motor yang diduga milik penjudi. Kini, tersangka pasal 303 KUHP itu diperiksa intensif oleh penyidak.
Kasatreskrim AKP Nuramin, mengatakan, pihaknya masih mendalami kasus permainan balap kelereng yang cukup populer di Pamekasan itu. "Jika terbukti berbau judi, maka kasusnya akan saya naikkan menjadi penyidikan," tutup Nuramin kepada wartawan, Jumat (1/4/2011).
(fat/fat)










































