Menurut dokter hewan Universitas Airlangga, siklus kupu-kupu, awalnya bermula dari telur, lalu menetas dan menjadi ulat. Kemudian menjadi kepompong hingga kemudian siap terbang menjadi kupu-kupu. Namun, cuaca buruk dan tak menentu seperti sekarang ini dapat memicu kupu-kupu untuk cepat menetaskan telurnya saat hinggap di suatu tempat.
"Tapi bukan berarti saat ada kupu-kupu langsung disemprot. Maksudnya, saat ada kupu-kupu masuk ke dalam rumah, kupu itu tak hanya lewat, tapi juga bertelur di sudut-sudut rumah," kata dokter hewan Universitas Airlangga, Prof Dr Imam Mustofa drh saat dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (31/3/2011).
Jadi, lanjutnya, fenomena menyebarnya ulat bulu (desiciria inclusa) ini bukan karena ulat bulu menyebar cepat hingga ke rumah warga. Namun, siklus kupu-kupu tahap penetasan telur kian tak terbendung hingga menelurkan bakal ulat di berbagai tempat, bisa di tanaman, bisa juga di dalam rumah. Maka itu, ia menyadarkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya.
Sementara untuk pertolongan pertama warga yang terserang gatal-gatal karena ulat bulu, korban harus mengkonsumsi obat yang mengandung anti histamin seperti incidal atau CTM. Pertolongan pertama ini setidaknya dapat membantu mengurangi gatal-gatal sebab penyerangan ulat bulu. Sedangkan, untuk membersihkan rumah warga dari ulat bulu, ia menyarankan untuk menyemprot ulat bulu tersebut dengan cairan pestisida.
"Warga harus jaga kebersihan, paling tidak dengan semprotan pestisida untuk mengurangi jumlah telur yang akan menetas," terangnya.
(bdh/bdh)










































