Pemeriksaan terhadap peziarah dimulai sekitar pukul 15.00 WIB, Jumat (18/3/2001). Petugas Kepolisian berseragam maupun berpakaian preman langsung membentuk barisan di pintu masuk Ponpes. Satu persatu peziarah pun tak luput dari pemeriksaan dengan menggunakan metal detector.
Tak hanya peziarah laki-laki saja, peziarah wanita dan anak-anak pun juga mendapat
pemeriksaan ketat oleh anggota Polwan. "Mohon maaf, barang-barang ibu kita periksa dulu," kata salah satu polwan kepada peziarah wanita.
Tak cukup hanya peziarah, petugas pun juga memeriksa kendaraan peziarah yang diparkir di area parkir Makam Gus Dur Dusun Seblak, sekitar 200 meter dari Ponpes. Pemeriksaan kendaraan dimulai dari memeriksa dalam mobil dan bagian bawahnya.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, tak hanya peziarah saja yang diperiksa, namun setiap kendaraan yang melintas di jalan depan Ponpes juga diperiksa satu persatu. "Hal ini kita lakukanĀ sebagai langkah antisipasi terkait maraknya aksi teror bom akhir-akhir ini," kata Kasubag Humas Polres Jombang, AKP Yogas kepada wartawan di lokasi, Jumat (18/03/2011).
Sementara itu, ketua Ponpes Tebuireng, Luqman Hakim, mengatakan, hingga kini kondisi di Tebuireng relatif aman. Setelah terjadi banyak teror bom di Jakarta, pihaknya juga sudah melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap paket barang, terutama buku.
Luqman menambahkan, kiriman barang dan buku yang diterima pihak Ponpes sehari bisa sampai 10 kali. Maklum, karena Tebuireng adalah Pesantren besar. "Kita selalu waspada, jika alamat pengirim tidak jelas, kita berhak curiga. Namun, hingga saat ini kondisi relatif aman-aman saja," kata Luqman saat ditemui wartawan di Ponpes Tebuireng.
(bdh/bdh)











































