"Kalau hanya sebatas melestarikan makam itu boleh-boleh saja. Namun, melestarikan bukan berarti untuk dikeramatkan," kata ahli sejarah dan pemikir Islam asal Sumenep, Prof. Abd A'la dalam bincang-bincang dengan detiksurabaya.com via telepon selulernya, Selasa (8/3/2011).
Dia menjelaskan, selaku umat Islam yang baik, tentunya tetap menghormati kepada para tokoh penyebar Islam tempo dulu. Namun, tidak untuk mengkeramatkan.
Melestarikan atau merawat makam seseorang, sama halnya dengan merawat makam leluhur setiap orang. Merawat makam leluhur, juga bukan untuk dikeramatkan. Tetapi, agar keturunan dan anak cucunya tahu dimana makam para sesepuhnya dan mengingat kebaikannya.
"Jadi, kalau manusia sudah mati, ya sudah selesai tugasnya. Kita yang akan melanjutkan kebaikan yang telah diperbuat selama hidupnya," katanya.
Yang perlu diambil hikmahnya, kata dia, kiprah dan keberhasilannya dalam menyebarkan Islam dengan cara damai dan tidak menumbuhkan konflik pada zamannya.
"Penyebaran Islam dengan cara damai itulah yang patut kita teladani pada zaman sekarang ini," ungkap A'la yang juga salah satu putra pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep ini.
Dia mengharapkan, untuk membuktikan kebenaran dari makam yang baru ditemukan tersebut agar dilakukan penelitian oleh orang yang berkompeten dibidangnya, sehingga ada kejelasan tentang sejarah dan kiprahnya dalam kemajuan Islam di Sumenep tempo dulu.
"Penemuan makam baru ini jangan sampai membias. Apalagi, ada hal yang disengaja yang akan berdampak negatif pada kehidupan masyarakat saat ini. Saya berharap, ada hikmah positif," pungkasnya.
(bdh/bdh)











































