Dengan didampingi keluarganya, Memey berniat mencari perlidungan dan keadilan
hukum, atas kasus yang menimpanya. Rombongan keluarga dari salah satu desa di Kecamatan Jangkar ini, ditemui langsung oleh Ketua Ikadin, Zainuri Ghazali.
Dalam pertemuannya dengan Ikadin terungka, jika Memey pernah menjadi korban
pemerkosaan yang diduga dilakukan oleh tetangganya yang bernama Wiwi. Kejadian itu dialami Memey pada awal Januari silam.
Atas kejadian itu, Memey tidak berani melapor dengan dalih mendapat ancaman jika apa yang dilakukan Wiwi sampai tersebar luas. Keterangan yang diperoleh dari Memey, dirinya diancam akan dibunuh jika apa yang dialaminya sampai terdengar orang lain.
Kasus itu sendiri berawal saat Wiwi menjemput Memey di rumahnya dan berdalih
meminta bantuan gadis itu, untuk memijat di rumah Wiwi. Saat itulah Memey mengaku dipaksa melayani nafsu bejat Wiwi. "Mare geruwa kule eberrik pesse pettong ebuh pak, (habis diseperti itukan (disetubuhi, red) saya diberi uang Rp 7 ribu pak)," terang Memey dengan bahasa madura kental.
Aksi Wiwi yang pertama ini berjalan mulus, hingga pada pertengahan Februari lalu Wiwi kembali melakukan aksi bejatnya untuk kali kedua. Saat itu Wiwi mengajak Memey ke sebuah tempat sepi di desanya dan kembali melakukan aksi bejatnya. Saat itu Memey mengaku diberi uang senilai Rp 10 ribu.
Namun untuk aksi yang kedua kalinya ini, Memey menceritakan apa yang dialaminya
kepada Hanisa kakaknya. Kontan saja, keluarga yang mendengar pengakuan Memey
langsung malaporkan ke polisi.
Atas laporan itu, polisi memeriksa terhadap Memey dan polisi menyatakan jika apa yang menimpa Memey bukanlah pemerkosaan melainkan perzinahan.
Polisi berani menyimpulkan demikian karena dalam pemeriksaan, Memey mengaku diberi uang dan kejadian itu terjadi hingga dua kali. Hal itu dibenerkan oleh Kasat Reskrim Polres Situbondo, AKP Sunarto saat ditemui detiksurabaya.com.
"Ya laporannya memang ada, sampai saat ini kasusnya masih dalam penyelidikian kok, dan fakta awal memang tidak emnunjukkan adanya pemerkosaan," tegas Sunarto.
Belakangan diketahui, Jika Memey ternyata mengalami keterbelakangan mental. Kondisi itulah yang kemudian dimungkinkan menyebabkan Memey mau saja diminta melayani nafsu bejat Wiwi hingga dua kali, termasuk mau saja diberi uang yang jumlahnya sangat kecil.
"Seharusnya polisi lebih serius dan teliti dalam menangani kasus ini, tidak usah menunggu hasil ahli psikologi, dari cara bicaranya saja sudah sangat jelas jika Memey ini memang lamban dalam berpikir," terang Zainuri.
Menanggapi pernyataan Zainuri, Sunarto juga mengeluarkan pernyataan, jika dalam
pemeriksaan Memey sangat baik menjawab setiap pertanyaan penyidik. "Untuk
mengetahui dia keterbelakaangan mental, ya harus melalui psikiater dulu," terang Sunarto.
(fat/fat)










































