Dentuman dan Getaran Tanah di Trenggalek Mulai Menghilang

Dentuman dan Getaran Tanah di Trenggalek Mulai Menghilang

- detikNews
Selasa, 01 Mar 2011 17:00 WIB
Trenggalek - Prediksi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, terkait suara dentuman dan getaran di Trenggalek akan berhenti dengan sendirinya, terbukti benar. Dalam dua hari terakhir intensitas kejadiaannya menurun drastis dan dalam waktu dekat diperkirakan akan hilang.

Kepala Bagian Humas Pemkab Trenggalek, Yoso Mihardi mengatakan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan pihaknya suara dentuman dalam dua hari terakhir maksimal hanya terjadi 2 kali dalam sehari. Kondisi ini merupakan penurunan drastis dibandingkan awal kemunculannya, dimana intensitasnya mencapai 25 - 30 kali.

"Pagi tadi saya dapat laporan, di Kecamatan Kampak semalam terdengar sekali, dan itupun pelan tidak seperti sebelumnya yang menggelegar," kata Yoso kepada detiksurabaya.com melalui sambungan telepon seluler, Selasa (1/3/2011).

Yoso menambahkan, kabar lebih baik datang untuk getaran di permukaan tanah. Sejak penelitian hari terakhir oleh PVMBG pada akhir pekan kemarin, getaran yang muncul akibat pergerakan tanah lambat tersebut sudah mulai hilang. "Ya mungkin karena gerakannya (tanah) sudah sangat lambat, makanya dentuman dan getarannya sudah hilang," sambungnya.

Mulai hilangnya suara dentuman dan getaran tersebut secara tak langsung juga menjadikan warga tak lagi merasakan was-was. Meski demikian, untuk lebih meyakinkan masyarakat jika kejadian tersebut tak berbahaya, Pemkab Trenggalek akan terus mensosialisasikan hasil penelitian PVMBG ke masyarakat hingga di daerah pelosok.

"Untuk sosialisasi kami pilih cara yang paling mudah diterima, yaitu merekam suara Pak Bupati dan mendengarkannya ke masyarakat. Kami gunakan jasa radio dan petugas keliling," jelas Yoso.

Sebelumnya, suara dentuman dan getaran mengagetkan warga 7 kecamatan di Kabupaten Trenggalek dalam 2 pekan terakhir di bulan Februari 2011. PVMBG Bandung menyikapi kejadian tersebut dengan melakukan penelitian selama 3 hari, dan menyatakan penyebabnya adalah pergerakan tanah lambat yang tidak membahayakan.

(bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini