Mugiati (60), salah satu warga di RT 02/RW 01 mengaku, dia terkena infeksi kulit hingga menyebabkan rasa gatal di sekujur tubuhnya. Kondisi itu dialami sejak dua bulan ini. "Empat anak saya juga mengalami hal sama," ujarnya ketika ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (28/2/2011).
Ibu enam anak ini mengungkapkan, infeksi kulit ini diketahui setelah memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit. Menurut hasil pemeriksaan, infeksi kulit hingga menyebabkan gatal-gatal di sekujur tubuh, akibat air yang digunakan keluarganya tercemar limbah.
"Katanya karena air sumur kami tercemar limbah," tutur Mugiati.
Dia menambahkan, warga mengalami infeksi kulit juga terjadi di RT 01/RW 01. Hampir seluruh kepala keluarga yang rumahnya berdekatan dengan sungai. Terserang infeksi kulit. "Warga RT 01, sampai banyak satu keluarga terserang gatal-gatal," imbuhnya.
Penyakit yang sama juga dialami, Jumadi (45). Menurutnya, sekitar satu bulan ini dia mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh. Seperti halnya Mugiati, infeksi kulit itu dia alami, karena sumur mereka tercemar limbah. "Air sumur, hanya saya gunakan untuk mencuci, itu pun terkadang saja. Kalau untuk minum dan memasak, saya gunakan air mineral," ujarnya ditemui terpisah.
Dia menuturkan, hampir semua warga tinggal berdekatan dengan sungai biasa disebut warga sebagai Kaligadung itu mengalami gatal-gatal. Rumah Jumadi dengan Mugiati sendiri hanya berjarak sekitar 4 meter dari bibir sungai. "Semua yang tinggal dekat sungai, pasti mengalami sama seperti saya," tandasnya.
Bagus Supriyadi (40), Ketua RT 02/R W01 membenarkan jika puluhan warganya mengalami infeksi kulit. "Ini sudah hampir dua bulan mas, itu karena sumur warga tercemar limbah," ungkapnya ditemui di rumahnya, Senin pagi.
Bagus menambahkan, kondisi sama juga dialami warga tinggal di RT 01/RW 01 berada di sisi barat. Dari sebanyak 80 KK, sebagian besar tinggal dekat sungai mengalami infeksi kulit. "Untuk RT disini jumlahnya ada 65 KK lebih, dan semua rata-rata pernah mengalami gatal-gatal.Ada tiga RT yang bernasib sama, semuanya tinggal dekat sungai," bebernya.
Dugaan awal, lanjut Bagus, infeksi kulit yang dialami warganya, dikarenakan sungai di dekat rumah warga tercemar limbah pabrik tapioka, yang berada sekitar 4 kilometer di hulu sungai.
"Yang kami ketahui, ini karena limbah pabrik tapioka, berada di atas sana," ujar Bagus seraya menunjukkan lokasi pabrik.
(bdh/bdh)










































