Tujuh bulan lalu, Indra melakukan aksi jalan kaki menuju istana negara untuk menuntut keadilan atas kematian putranya Rifki Andika (12), akibat kecelakaan yang melibatkan anggota polisi Kompol Joko Sumantri di Jalan Letjen S Parman, Kota Malang, Tahun 1993 silam. Kala itu, Indra berhasil ditemui SBY meskipun hanya sekejap, setelah dirinya berjuang dengan berjalan kaki selama 22 hari dari Malang menuju Jakarta.
Menurut Indra dalam pertemuan itu, dirinya diberi uang oleh bagian rumah tangga yang mengatakanm jika uang itu dari presiden sebesar Rp 25 juta. "Yang beri bagian rumah tangga, saya ingat orangnya. Makanya mau saya kembalikan lagi ke presiden," ujar warga Jalan Genuk Watu Barat Gang II Nomor 95 Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jumat (18/2/2011).
Ditanya mengapa uang itu dikembalikan dan memilih untuk berjalan kaki menuju istana? Lelaki seharinya menjadi loper koran ini menuturkan, jika aksi ini sebagai bentuk kekecewaan dirinya, belum adanya tindakan nyata atas penyelesaian kasus yang menimpa putranya tersebut. Kendati dirinya telah menyampaikan langsung kepada presiden. "Saya kecewa, kenapa belum jelas juga, terus maksud uang itu untuk apa," tegasnya.
Padahal, kata Indra, dalam pertemuannya dengan presiden saat itu, dirinya mengetahui langsung presiden memerintah Kapolri, Menkumham, dan Satgas Mafia Hukum untuk memperhatikan kasusnya. Tapi nyatanya sampai kini semua itu seperti terlupakan.
"Pak presiden langsung bilang ke kapolri, Pak Patrialis, dan Deny Indrayana untuk perhatikan kasus saya. Tolong saudara kita dari Jawa Timur ini diperhatikan," ucap Indra menirukan perkataan SBY waktu itu.
Rencananya Indra berjalan kaki mengambil rute tujuh bulan lalu, yakni Malang, Batu, Kediri, Jombang, Yogya, Bogor, hingga Jakarta. Dalam perjalanan ditaksir selama 22 hari itu, Indra hanya berbekal beberapa potong pakaian, telpon seluler, serta uang saku secukupnya.
Lelaki berkacamata ini juga membawa sebuah poster yang bertulis kecaman keadilan dia tuntut hanya dihargai uang semata oleh kepala negara. Tak lupa Indra mengenakan kaos bergambar kepala singa, yang menjadi logo tim sepakbola Arema Indonesia.
(bdh/bdh)










































