Garis hidup putra kedua pasangan Buser alias Pak Asan (50) dan Halisah (47) itu harus dijalani dengan kondisi mengenaskan. Saat usianya menginjak 20 tahun, tanpa sebab yang pasti, tiba-tiba Rozi berkelakuan aneh dan menyerang teman-temannya dengan sebilah celurit terhunus di tangan.
Karena membahayakan jiwa temannya, akhrinya Abdul Hamid (52), sang paman, nekad membekap Rozi yang mengamuk. Meski lengan kanan Abdul Hamid terluka bacok, Rozi akhirnya bisa diamankan.
"Tapi, sikap Rozi tetap seperti orang gila. Dia berteriak-teriak tak karuan. Bahkan, seluruh dinding papan rumah orangtuanya dirusak hingga bolong. Karena membahayakan, akhirnya Rozi dipasung," kata Sururoh (20), adik bungsu Rozi, Selasa (8/2/2011).
Sururoh yang ditemui di rumahnya di Dusun Congklak Desa Toket, Kecamatan Proppo, mengatakan, setelah 5 tahun dipasung, kakaknya itu terlihat sembuh dan normal seperti orang kebanyakan. Melihat itu, Rozi hidup berkumpul kembali dengan keduaorangtuanya.
"Sayang. Kondisi normal kakak saya itu tak berlangsung lama. Kak Rozi kembali menyerang warga dengan celurit," kata Sururoh mengenang.
Khawatir ada warga yang terluka, akhrinya Rozi kembali disekap di gubuk sebelah rumahnya. Karena kemiskininannya, Rozi tak pernah diperiksakan ke puskesmas atauapun ke rumah sakit.
"Apalagi keluarga kami tak pernah diberi kartu jamkesmas," keluh Sururoh sembari menjelaskan jika bapak-ibunya hanyalah buruh tani berpenghasilan Rp 10 ribu per hari.
Karena kemiskinan itu pula, nasib Rozi harus dihabiskan di dalam gubuk berlantai tanah dengan atap genting yang bolong-bolong bekas dirusak Rozi. Kini, keluarga Rozi berharap ada dermawan yang ikhlas mengulurkan bantuan untuk penyembuhannya.
"Syukur-syukur Pak Bupatu berkenan datang membezuk Kak Rozi dan memberi bantuan," pungkas Sururoh menaruh harap.
(fat/fat)











































