Keterangan itu seperti disampaikan oleh ayah kandung Rois, Kusnan Tamyis. Ditemui wartawan di rumahnya, lelaki pensiunan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung tersebut mengaku gelisah, karena takut anaknya akan mengalami kondisi yang lebih buruk.
"Semalam sudah bisa kontak saya lewat HP. Dia bilang selamat dan sedang bertahan di asrama. Tapi ya itu, sudah ada dua mingguan dalam sehari hanya bisa makan sekali, karena memang cari bahan makanan susah," ungkap Kusnan di rumahnya, Jumat (4/2/2011).
Kusnan juga mengatakan, di asrama kampus yang berlokasi di Distrik Mansuroh, anaknya tinggal bersama sekitar 30-an mahasiswa lain yang berasal dari Indonesia. Lokasi tersebut untuk sementara aman, karena terletak cukup jauh dari pusat bentrokan di Distrik Tahrir. "Dia bilang jaraknya sekitar 15 kiloan. Tapi saya tetap was-was, apalagi kalau mengikuti beritanya kok ngeri begitu," sambungnya.
Meski anaknya saat ini dalam kondisi aman, Kusnan tidak tahu kapan proses pemulangan akan dilakukan. Ini setelah keberadaan warga Indonesia di Mesir terpencar di beberapa distrik yang saling berjauhan, sementara upaya evakuasi masih terkendala dengan terus terjadinya bentrokan antara pihak yang pro dan kontra dengan Presiden Husni Mubarak.
"Ya kalau harapan saya semoga bisa segera dipulangkan. Masalahnya untuk mengumpulkan saja sekarang masih susah, apalagi sampai mengevakuasi," pungkas Kusnan.
(bdh/bdh)











































