Pintu masuk jebol setelah beberapa dari mereka menerjang dengan kaki. Mereka terlihat emosi dan marah besar setelah di lingkungan kampus STKIP terdapat tulisan yang dinilai melecehkan lembaga PMII.
Tulisan tersebut diantaranya, "PMII Najis, Jangan Masuk STKIP", "Warning Rabies PMII
Bangsat", "PMII Buanglah Pada Tempatnya" dan dibentuk sebuah kuburan serta ditempel
tulisan PMII.
Akibatnya, seluruh mahasiswa yang tergabung dalam wadah PMII dari berbagai perguruan tinggi di Sumenep datang ke kampus STKIP.
Mereka menggelar aksi dan berorasi sambil mengecam pelaku dan pihak rektor STKIP yang diduga ikut serta dalam tindakan yang melecehkan lembaga PMII tersebut.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, munculnya tulisan yang dinilai melecehkan
tersebut berawal dari proses pemilihan BEM di STKIP.
Antar calon dan kader lembaga kemahasiswaan bersaing ketat. Entah apa yang jadi pemicu awal, tiba-tiba muncul tulisan bernuansa melecehkan dan ditempel di beberapa sudut kampus STKIP.
Salah seorang sekretaris PC PMII Sumenep, Moh Rusdi mengaku tidak terima dengan
sejumlah tulisan yang melecehkan lembaga PMII.
"Kami tidak pernah mencari masalah. Dan kami juga tidak pernah bermasalah dengan
siapa pun, tetapi kenapa PMII dilecehkan oleh STKIP," teriak Rusdi, dalam orasinya,
di depan pintu masuk kampus STKIP, Jalan Raya Sumenep-Pamekasan, Selasa (18/1/2011)
sore.
Para aktivis mahasiswa tersebut juga mengecam pihak rektor STKIP dan diminta segera
mengusut pelakunya. Bahkan, STKIP dinilai telah mempunyai salah besar terhadap PMII.
"Rektor STKIP harus minta maaf, dan menindak pelaku pelecehan terhadap PMII," tegasnya.
Warga PMII mengancam bakal membawa keranah hukum bila tidak diselesaikan secara arif. Sebab, lembaga PMII merupakan lembaga resmi dilingkungan kampus.
Puas berorasi, para aktifis mahasiswa tersebut akhirnya membubarkan diri dengan kecewa, sebab rektor STKIP yang menemui mereka dinilai tidak proaktif.
Sementara, Rektor STKIP Sumenep, Musaheri mengakui jika sejumlah tulisan tersebut
mengarah pada sebuah pelecehan terhadap organisasi kemahasiswaan.
"Saya atas nama civitas STKIP mohon maaaf atas kejadian ini," kata Musaheri dalam
siaran pers di ruang pertemuan STKIP lantai 2, jalan Raya Sumenep-Pamekasan.
Dia juga mengaku teledor dengan tulisan-tulisan tersebut. Namun, untuk memperjelas akar masalah hingga mengarah pada pelecehan, maka STKIP membentuk Komisi Disiplin yang terdiri dari 5 orang.
"Tugasnya mencari akar masalah dan menemukan solusi, sehingga kebijakan yang akan
diambil tidak saling merugikan semua pihak," terangnya.
Untuk mengungkap persoalan tersebut, dia meminta waktu 3 hari kedepan. Namun, bila
ada pihak yang tidak puas, dirinya mempersilahkan menempuh melalui lembaga lain.
Disisi lain, dia juga menyayangkan aksi kader PMII Sumenep yang sampai merusak pintu
masuk kampus STKIP.
"Saya berharap, semuanya belajar demokrasi dengan baik dan tindakan yang baik pula,"
pungkasnya.
(bdh/bdh)










































