Marlan, salah satu pemilik rumah yang mengalami keretakan mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini merupakan imbas dari hujan lebat yang terus turun dalam sepekan terakhir. Tanah di sekitar rumahnya saat ini retak dengan kerenggangan mencapai 20 centimeter, sementara dinding dan lantai rumah merenggang hingga 10 centimeter.
Akibat dari kejadian tersebut Marlan dan keluarganya mengaku harus mengungsi ke rumah kerabatnya di Desa Puru, Kecamatan Suruh, tanpa tahu sampai kapan akan menjalaninya.
"Kalau retaknya sudah ada semingguan. Awalnya kecil dan terus tambah lebar, apalagi
kalau hujan lebat terus turun," ungkap Marlan saat ditemui wartawan di rumah
kerabatnya, Senin (17/1/2011).
Marlan juga mengatakan, nasib yang sama juga dialami sekitar 13 tetangganya. Rata-rata rumah mengalami keretakan antara 10 hingga 15 centimeter pada dinding dan lantainya, sehingga dikhawatirkan rawan amblol.
Keterangan Marlan juga dibenartkan oleh Kepala Desa Puru, Supriyono. Dari pendataan sementara terdapat 14 rumah yang mengalami kerusakan parah akibat tanah retak, 9 diantaranya dinyatakan tak lagi layak huni.
"Kami sudah data dan ada 9 yang kami nyatakan rusak berat. Penghuninya sudah kami instruksikan mengungsi, dan bantuan atau ganti rugi masih kami usahakan ke pemerintah daerah," kata Supriyono.
Secara terpisah Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Yoso Miharjo, dikonfirmasi mengenai kejadian tanah retak di Kecamatan Suruh mengaku belum mendapatkan laporan. Meski demikian berjanji akan membantu upaya pemberian bantuan ke korban, dengan mengkordinasikannya bersama satuan kerja terkait.
"Kalau laporan resmi ke saya belum ada, tapi kalau dugaan itu karena dampak hujan yang terus turun. Untuk bantuan sendiri saya belum bisa pastikan, tapi saya yakin ada. Untuk itu saya akan coba koordinasi dengan Kebanglinmas atau satuan kerja terkait lainnya," paparYoso melalui sambungan telepon.
(bdh/bdh)










































