Aksi pengusiran dan penghalangan tugas jurnalistik itu, tentu saja mendapat perlawanan para wartawan. Bahkan, seorang wartawan akhirnya terpaksa melayani tantangan seorang satpam yang mengajak berkelahi.
Celakanya, Ketua Bidang Kemahasiswaan Akbid Ifa Husada, Sringatin hanya melongok dari balik pintu ruangan dosen dan membiarkan 2 orang satpamnya bersitegang dengan para wartawan.
Perihal terjadinya kesurupan mahasiswa terindikasi dari seorang mahasiswa yang belum diketahui identitasnya dibopong dari sebuah ruang kelas menuju ruang dosen.
Seorang mahasiswa lainnya tampak membawa sepatu dan kaos kaki warna putih yang belakangan diketahui milik Rusmiyati, mahasiswa semester 2 yang kesurupan.
Teriakan demi teriakan masih terdengar dari ruang kelas Rusmiyati, yang berlokasi di utara ruang dosen. Mendegar suara gaduh, seorang wartawan mencoba membuka pintu ruang kelas itu. Melihat itu, 2 orang yang mengenakan baju batik dan mengaku sebagai petugas satpam, menarik tangan wartawan itu. "Sampeyan dapat izin dari siapa," bentak satpam itu.
Mendapat rekannya dibentak, para wartawan yang lain mencoba menenangkan satpam itu. "Baik pak. Coba antarkan kami ke pimpinan akbid untuk minta izin," terang Dedy Priyanto, wartawan RCTI.
Bukannya mengantarkan wartawan ke ruang pimpinan, justru sebaliknya 2 satpam itu mendorong-dorong punggung para wartawan. Melihat ulah satpam yang kasar, para wartawan melakukan protes keras.
"Pak kami datang ke sini baik-baik. Cobalah menerima dengan baik-baik juga. Jika dibutuhkan izin dari pimpinan, tolong kami diantarkan ke pimpinan," jelas Nadi Mulyadi, wartawan Radar Madura yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan.
Upaya baik-baik dari kalangan wartawan tetap ditanggapi kasar oleh ke-2 orang satpam itu. Bahkan, seorang satpam mengajak berkelahi. Melihat suasana tak kondusif, para wartawan akhirnya meninggalkan kampus Akbid Aifa Husada yang berlokasi di Jalan Pintu Gerbang Pamekasan.
"Kami menyesalkan sikap pimpinan Akbid Aifa Husada yang terlihat membiarkan aksi pengusiran wartawan oleh satpamnya," pungkas Andre Hafid, wartawan RRI yang juga Ketua Komunitas Wartawan Independen Pamekasan.
(fat/fat)











































