Hal ini disampaikan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Malang, Atmo Ismail. Menurutnya, sebanyak 1.925 jiwa warga Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, adalah nelayan. Kondisi mereka saat ini memprihatinkan, setelah hampir empat bulan lebih tak melaut.
"Karena kebutuhan hidup harus dicukupi, mereka banyak kini menjual emas," ujar Atmo, saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Senin (10/1/2011).
Menurut Atmo, para nelayan menjual barang berharganya untuk memenuhi stock kebutuhan hidup selama tiga bulan ke depan. Karena diprediksi angin kencang dapat mengakibatkan ombak setinggi 4 meter masih terjadi.
Nelayan menjual emasnya seharga Rp 275 ribu per gram. Patokan harga itu dilakukan semua nelayan. "Harga emas dipatok sama sebesar Rp 275 ribu per gram. Karena tiga bulan kedepan terjadi angin barat. Dan itu merupakan kencang-kencangnya angin. Pastinya kami (nelayan,red), memilih tak melaut," bebernya.
Atmo menegaskan, nelayan sendiri sebenarnya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Sehingga bisa langsung mengantisipasi dengan memenuhi stock kebutuhan sebelum terjadi krisis pangan.
"Para nelayan, jika ramai mendapatkan hasil laut selalu menyisihkan untuk tabungan berupa perhiasan emas, agar mudah dijual. Hal itu untuk menghadapi masa seperti ini," terangnya.
Selain menjual perhiasan, para nelayan, lanjut Atmo, sebagian beralih kerja sebagai tukang batu dan kayu atau kerja serabutan lainnya. (bdh/bdh)











































