Ini diungkapkan Yayuk (29), warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Probolinggo. Yayuk mengatakan besarnya letusan Bromo kali ini terlihat akibat dari getaran yang disertai letusan.
Akibatnya, puluhan warga Desa Ngadisari mengungsi ke posko pengungsian yang berada di kantor Kecamatan Sukapura sekitar pukul 18.00 WIB, Rabu (29/12/2010) malam.
"Letusan Bromo saat ini paling besar dibandingkan letusan tahun-tahun sebelumnya. Seperti tahun 2000 maupun 2004," kata Yayuk, saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Kamis (30/12/2010).
Janda satu anak ini mengungkapkan ia bersama warga lainnya harus mengungsi karena kuatnya getaran yang disebabkan aktivitas erupsi Bromo.
"Bagaimana nggak takut mas, kaca dan tanah ikut sama-sama bergetar. Saat itu semua warga terlihat seperti upacara Kasada, berbondong-bondong mengungsi," ungkap wanita yang memiliki rambut sebahu ini.
Yayuk memilih kembali ke rumah karena yakin Bromo yang selama ini memberikan kehidupan bagi dirinya, tidak akan 'mengamuk' lagi. "Ini hanya peringatan bagi kami karena tahun-tahun sebelumnya meski meletus, tidak sedahsyat ini yang membuat kita takut," tuturnya.
Sementara itu, petugas Pos Pengamatan Gunung Berapi Gunung Bromo di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Ahmad Subhan mengatakan getaran yang dirasakan warga bukanlah gempa vulkanik yang disebabkan aktivitas erupsi Bromo, akan tetapi karena tekanan udara yang cukup kuat.
"Yang dirasakan warga bukan getaran, tapi tekanan udara yang disebabkan oleh letusan. Jadi letusan menyembur ke atas, lalu tekanan udara kan kembali ke udara yang menyebar ke seluruh arah. Nah itu yang dirasakan warga. Kalau getaran atau gempa, pos ini sudah tidak jadi rumah atau pos pasti ambruk," tandasnya. (ze/wln)











































