Dari informasi yang dihimpun di lokasi rumah duka, sebelum bocah bernama Riko itu meninggal, dia diajak ayah ibunya menjemput Haji Masduki (42) dan Hajah Sulastri (38) yang tidak lain adalah paman Saiful ke Asrama Haji Sukolilo, sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (1/12/2010).
Saiful bersama keluarga yang lain menumpang mobil APV warna hitam carteran. Karena bangku belakang kosong, akhirnya Riko tiduran di tempat itu. Saiful bersama istri dan anaknya bermalam di Surabaya. Saat pamannya tiba beserta rombongan haji Kloter 25 di Asrama Haji Sukolilo, Saiful dan keluarganya pulang ke Madura sekitar pukul 08.00 Kamis (2/12/2010). Selama perjalanan pulang ke Madura, Riko lagi-lagi tiduran di jok belakang.
Sesampainya di kampungnya di Desa Bandaran, Pamekasan, Saiful beserta istrinya ikut bergembira bersama warga lainnya yang ikut menyambut kedatangan Haji Masduki. Saking gembiranya menyambut pamannya turun haji, Saiful dan istrinya lupa jika Riko masih tertidur di dalam mobil APV dalam kondisi seluruh pintu dan kaca jendela terkunci rapat.
Setelah 30 menit berselang, Saiful baru teringat jika anaknya belum turun dari mobil. Saat Saiful membuka pintu mobil, dilihatnya badan Riko sudah membiru. Saiful baru mengehtahui jika anaknya tewas setelah membawa anaknya ke Puskesmas Bandaran yang berjarak 100 meter dari rumahnya.
Setibanya di puskesmas, paramedis yang memeriksanya mengatakan jika Riko telah tewas. Mendengar anaknya tewas, Tusriyah langsung menjerit histeris dan pingsan. Keluarga Saiful langsung membopong mayat Riko sekaligus mengusung tubuh Tusriyah yang pingsan menuju rumah duka.
Sesampainya di rumah duka, mayat Riko disambut dengan hujan tangis dan jeritan histeris dari keluarga korban. Bahkan, keluarga korban melarang polisi melakukan proses identifikasi. Polisi yang mengeluarkan bantalan tinta cap jari dihalangi oleh keluarga korban. Bahkan, polisi yang hendak memotret kondisi mayat sempat dihalang-halangi keluarga korban.
"Sudah pergi sana Pak. Kami ikhlas atas kematian anak kami. Jangan ganggu kami yang hendak mensucikan mayat anak kami Pak," teriak sejumlah ibu-ibu yang hendak memandikan mayat Riko.
Karena ada penolakan identifikasi dari keluarga, polisi akhirnya mengundurkan diri. "Meski ada penolakan proses identitifikasi, kami tetap akan memproses kasus kematian Riko secara hukum. Sebab, kematian Riko itu merupakan akibat kelalaian ayahnya," jelas Kapolsek Tlanakan, AKP Bambang Sugiarto.
"Setelah suasana berduka, kami tetap akan memanggil Saiful untuk disidik dengan pidana akibat kelalaian menyebabkan matinya orang," pungkas AKP Bambang. (bdh/bdh)











































