Tidak diketahui kapan tepatnya pembobolan itu terjadi, karena baru diketahui pagi tadi. Pertama kali yang mengetahui brankas itu dibobol adalah Supauji alias Gobloh (30), salah satu petugas kebersihan.
Sekitar pukul 06.30 WIB, Supauji akan menyapu di kantor dan melihat brankas di ruang sekretariat dalam kondisi roboh dan rusak. Saat itu dirinya tidak berani masuk ke ruangan dan memilih menunggu karyawan kantor dan kepala dinas datang.
Selanjutnya, kasus itu dilaporkan ke Polisi oleh Kepala Dinas Peternakan, drh Gaguk Mudjiyanto. Hasil olah TKP polisi, diketahui pintu di belakang kantor rusak dan sejumlah laci acak-acakan. Diperkirakan pelaku masuk dari pintu tersebut.
Anehnya, sebenarnya di kantor itu sudah ada petugas penjaga malam yang bertugas mengamankan kantor dari pencuri maupun kejadian lainnya, namun tetap saja terjadi kemalingan.
Kantor tersebut tidak sekali saja kemalingan. Tahun 2009 lalu, kantor Dinas Peternakan pernah mengalami hal yang sama. Salah petugas jaga malam, Suherfan mengaku sudah melakukan pengecekan di sekitar kantor pukul 03.00 WIB dini hari dan tidak ada kejadian janggal.
"Karena tidak ada apa-apa, saya langsung kembali ke musolla pak," kata Suherfan kepada detiksurabaya.com.
Sementara Bendahara Paguyuban IB (Inseminasi Buatan) Umami membenarkan jika
uang yang berhasil dibawa pelaku adalah Rp 25 juta. Uang tersebut milik anggota paguyuban IB. "Rencananya hari ini mau disetor ke Bank, awalnya mau saya bawa pulang, karena takut hilang saya simpan di brankas, eh malah brankasnya dibobol maling," ujarnya.
Untuk mengungkap kasus itu polisi memintai keterangan terhadap sejumlah pihak, termasuk Suherfan selaku petugas jaga malam yang dianggap harus bertanggung jawab atas kasus itu. "Sampai saat anggota kami masih menginterogasi Suherfan, hasilnya pasti teman-teman wartawan akan dikabari," tukas Kapolres AKBP Imam Thobroni.
(fat/fat)











































