Dari pengamatan petugas Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Bromo yang berada di Cemorolawang Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, sejak pukul 00.00 WIB, Kamis (24/11/2010) sampai siang ini, tercatat gempa vulkanik dangkal sebanyak 52 kali dengan amplitudo sebanyak 5-38 mm.
Dan gempa tremor dengan amplitudo 2-5 mm. Sedangkan, pada Rabu (23/11/2010) kemarin, gempa tremor mencapai dengan amplitudi 10-40 mm dan gempa vulkanik dangkal mencapai 20 kali.
"Kalau melihat catatan gempa tremor, memang ada penurunna drastis. Tapi vulkanik dangkal meningkat hingga 52 kali," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Bromo yang berada di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Mulyono, kepada detiksurabaya.com, Kamis (25/11/2010).
Mulyono mengungkapkan, dengan penurunan gempa tremor tersebut, terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi, seperti bisa meletus atau mengalami penurunan secara terus menerus.
"Ada dua alternatif, apakah menurun terus atau menyimpan energi dan yang kita khawatirkan bisa mbledos. Kita berharap turun terus, biar masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti semula dan Gunung Bromo banyak yang mengunjunginya," ungkapnya.
Perkembangan hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih memberikan status Gunung Bromo awas. Asap putih tebal masih membumbung setinggi 200 meter dari kawah dan bergerak mengikuti arah angin dari arah selatan barat daya (ke Malang).
"Masih awas dengan radius kurang lebih 3 kilometer, tidak boleh ada aktivitas apapun," tandasnya.
(roi/wln)











































