Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes mahasiswa karena selama 100 hari pemerintahan Bupati Fadeli dan Wakil Bupati Amar Syaifuddin tidak ada program kerja yang jelas yang bisa dirasakan masyarakat.
Selain menggelar tahlilan di depan kantor bupati Lamongan, puluhan mahasiswa ini juga menghadiahi bupati berupa BH, kondom dan dot bayi sebagai simbol bahwa bupati Lamongan banci dan tidak mampu berbuat apapun untuk rakyat.
Salah seorang korlap aksi, Bahrul Ulum mengatakan, aksi di depan kantor bupati Lamongan terpaksa dilakukan karena selama 100 hari menjadi bupati tidak ada program-program yang bisa dirasakan langsung oleh rakyat.
Bahrul Ulum menegaskan, hampir 4 bulan masa kerja aktif bupati dan wakilnya tidak mampu membuktikan bahwa mereka benar-benar bekerja maksimal dengan melakukan gebrakan dan perubahan mendasar pada awal kerjanya. "Kami menuntut agar pembangunan infrastruktur jalan dan sungai yang berkualitas," tandasnya.
Selain itu, kata Bahrul Ulum, mahasiswa juga menuntut agar bupati dan wakilnya mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mengusut tuntas mega proyek di Lamongan. "Kami juga meminta agar pemkab lamongan mampu memaksimalisasi income daerah dari WBL dan LIS," tukasnya.
Aksi mahasiswa ini dilanjutkan di gedung DPRD Lamongan ini sempat berlangsung panas. Mahasiswa sempat adu kekuatan saling dorong dengan polisi saat berusaha membuka pintu gerbang gedung DPRD Lamongan.
Aksi dorong pintu gerbang ini membuat polisi akhirnya melunak dan mengizinkan mahasiswa masuk ke gedung dewan.
(fat/fat)










































