Komunikasi Hosna dengan keluarganya sangat terbatas, karena sang majikan merampas dan melarang keras dirinya menghubungi keluarga di Indonesia.
"Katanya nggak pernah mendapatkan gaji, wong ke keluarga juga tidak pernah berkirim uang," ujar Alfari, paman korban kepada detiksurabaya.com ditemui di rumah keluarga Hosna, Minggu (21/11/2010).
Keluarga Hosna berharap kepada pemerintah untuk memfasilitasi kepulangan Hosna. Pihak keluarga mengaku tidak memiliki banyak uang untuk membiayai pemulangan Hosna dari Arab Saudi ke Indonesia.
"Terus terang kami tidak punya banyak uang untuk bisa memulangkan keponakan kami dari Arab Saudi. Untuk makan sehari-hari saja kami sudah bingung," tutur Alfari.
Kabar Hosna dianiaya majikan baru diketahui keluarga. Ini setelah Alfari, pamannya dihubungi Hosna pada awal November lalu. Saat itu Hosna memberitahukan jika dirinya sering dianiaya majikannya.
Kepada pamannya, Hosna mengatakan dirinya sedang dirawat di rumah sakit di Madinah. Hosna mengalami patah tulang pada kakinya, setelah berhasil kabur dengan cara melompat dari jendela rumah majikannya.
Pihak keluarga tidak tidak dapat menghubungi Hosna. Ini karena Hosna tidak memiliki telepon seluler. Hingga saat ini keluarganya belum mengetahui perkembangan kesehatan Hosna.
(wln/wln)











































