BBM di Situbondo Mulai 'Menghilang'

BBM di Situbondo Mulai 'Menghilang'

- detikNews
Rabu, 17 Nov 2010 16:36 WIB
BBM di Situbondo Mulai Menghilang
Situbondo - Beberapa hari ini sejumlah SPBU di Situbondo mengalami kelangkaan BBM. Ini menyusul jatah BBM jenis premium dikurangi sejak beberapa hari terakhir.

Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com, pengurangan jatah pengiriman BBM jenis premium nyaris mencapai 50 persen dari jatah semula.

Misalnya, di SPBU Karang Asem, Jalan PB Sudirman, Bila sebelumnya  mendapat jatah pengiriman antara 16 ribu hingga 24 ribu liter per hari, kini di SPBU itu hanya mendapat jatah pengiriman antara 8 ribu hingga 16 ribu liter.

"Padahal, setiap hari kita harus melayani permintaan pengguna premium hingga 12 ribu liter perharinya, ya jelas luring lah mas," kata salah satu karyawan SPBU kepada detiksurabaya.com, Rabu (17/11/2010).

Pengurangan terjadi berkaitan dengan rencana pemerintah mengalihkan penggunaan premium ke jenis pertamax, yang harganya jauh lebih mahal karena memang tidak bersubsidi.

Saat ini harga per liter pertamax di Situbondo masih dikisaran Rp 7 ribu. Meski lebih mahal, terpaksa konsumen utamanya pengendara roda dua tetap membeli pertamax.

Parahnya, untuk wilayah Situbondo SPBU yang menyediakan BBM jenis pertamax itu hanya di SPBU Jalan Basuki Rahmat. Sehingga masyarakat juga sulit untuk mendapatkannya.

Di kios bensin yang berada di pinggir-pinggir jalan kini juga tidak lagi menjual premium, karena SPBU sudah tidak melayani pembelian premium dengan jerigen. Masyarakat merasa tidak nyaman dengan langkanya premium di Situbondo ini.

"Apalagi di sini tidak semua SPBU menyediakan pertamax, kalau sudah butuh kalau mahal juga kita pasti membeli pak, tapi ya mau membeli kemana wong yang ada cuma di kota," kata Raihan, salah pengendara motor asal Kecamatan Kendit saat diwawancarai detiksurabaya.com.

Sama halnya dengan yang dialamai Hariyanto, warga asal Kecamatan Mangaran, yang mengaku kesulitan mendapatkan premium, padahal disaat hari raya idul adha ini dirinya sangat membutuhkan bahan bakar karena harus sering bepergian ke sejumlah saudara kerabatnya.

"Ya terpaksa membeli di kios yang harganya mencapai 7 ribu mas, mau dimana lagi ya tetap beli, itupun hanya sebagian kios yang menjual," tutur Hariyanto.
(fat/fat)
Berita Terkait