Protes tersebut dilakukan puluhan warga dari enam desa yang berada di sekitar Sumur Alas Tuwo Barat. Yakni Desa Ngadiluwih, Sambong, Tengger, Desa Sendangharjo, Ngasem, Dukuh Kidul, yang semuanya masuk wilayah Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.
"Kita meminta pihak perusahaan yang melakukan pengeboran untuk bertanggung jawab atas nasib warga setempat. Banyak sekali dampak lingkungan yang diakibatkan dari pengeboran tersebut. Tapi sejak awal warga sekitar tidak pernah diajak koordinasi," kata Arif Setiawan, koordinator aksi dalam orasinya saat menggelar demonstrasi di pintu masuk sumur Alas Tuwo Barat, Senin (15/11/2010).
Warga mengaku resah lantaran sepanjang waktu mendengar suara bising dari mesin di pusat pengeboran minyak tersebut yang tak pernah berhenti, polusi air dan polusi udara yang bisa mengakibatkan ISPA bagi masyarakat setempat.
"Pokoknya, perusahaan harus bertanggung jawab atas hal ini. warga sekitar harus diajak berembuk mengenai penanganan limbah dan dampak lingkungan akibat pengeboran minyak," teriak pendemo sambil membeber sejumlah spanduk di pintu masuk pengeboran minyak yang dioperatori PT MCL.
Dengan penjagaan ketat dari puluhan petugas Polsek Ngasem dan Polres Bojonegoro, puluhan warga dari enam desa itu terus bergantian menggelar orasi. Sayangnya, tidak ada satu pun perwakilan dari pihak MCL yang keluar untuk menemui para pendemo. Akhirnya, aksi protes itu dihentikan dan para pendemo membubarkan diri.
"Selain demo, kita juga telah mengirim surat kepada Bupati dan DPRD Bojonegoro untuk melaporkan keluhan warga. Semoga, dalam waktu dekat semua pihak bisa diajak berkoordinasi untuk menyelesaikan permasalahan ini," sambung Arif. (bdh/bdh)











































