Warga menggelar aksinya setelah khawatir truk pengangkut material proyek pengerjaan jalan tol tersebut merusak jalan di perkampungannya. Aksi ini dilakukan 30 warga dengan diawali penghadangan terhadap sejumlah truk yang melintas.
Sugianto (37), salah seorang pendemo mengatakan, kekhawatiran tersebut muncul karena batas tonase kendaraan yang diijinkan melintas di daerahnya adalah 8 ton, sementara truk pengangkut material proyek rata-rata bertonase 15 ton. Kondisi ini diperparah dengan tudingan tidak adanya izin bagi kendaraan tersebut bisa melintas.
"Kalau izinnya jelas dan ada kompensasi atas kemungkinan kerusakan jalan silahkan. Ini tidak ada pembicaraan sebelumnya, tiba-tiba seenaknya saja melintas, memangnya ini jalan kakek moyang mereka," ungkap Sugianto yang dibenarkan warga lainnya, Sabtu (13/11/2010).
Dari aksi warga tersebut, polisi yang menjaga agar tidak terjadi kericuhan langsung mempertemukan kedua belah pihak dan dinas perhubungan. Hasilnya, pengelola proyek meski permohonan dan persetujuan diakui hanya sebatas lisan.
"Pimpinan kami secara lisan sudah beritahu dinas (perhubungan) dan diizinkan melintas. Kami yang di lapangan kan taunya asal ada izin ya sudah," ungkap Yono,
pengelola galian tanah untuk metarial proyek Tol Mojokerto-Kertosono.
Mendapati jika izin yang dikantongi pengelola proyek sebatas lisan, warga marah dan terjadi adu mulut antara pendemo dan pengelola proyek. Salah seorang warga yang emosi bahkan sempat mengacung-acungkan senjata tajam, hingga harus berurusan dengan aparat kepolisian.
Kondisi tersebut mereda, setelah aparat kepolisian terus meminta kepada kedua pihak untuk menahan emosi. Warga yang kecewa meluapkan kemarahannya dengan memaksa truk membongkar muatannya di tepi jalan, sebelum akhirnya diizinkan melintas. Aksi ini sendiri tak dapat dihentikan oleh aparat kepolisian, karena warga mengancam akan menggunakan kekerasan jika keinginannya dihadang.
"Silahkan terus melintas, tapi kami akan terus menghadang selama tidak ada kesepakatan kompensasi. Silahkan kalau mau, kami akan terus bongkar muatan mereka,"pungkas Sugianto.
Informasi yang berhasil dihimpun mengatakan, truk pengangkut material tersebut tengah mengusung tanah yang diambil di Kecamatan Jatikalen, untuk dijadikan bahan urug lokasi pembangunan jalan tol di Jombang.
(wln/wln)










































