"Gempa guguran ini skalanya masih kecil, amplitudenya 4 milimeter," kata Ketua Pos Pantau Semeru di Gunung Sawur, Candipuro, Kabupaten Lumajang, Suparno, saat dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (4/11/2010).
Selain 4 kali gempa guguran lava pijar, data seismik di Pos Pantau Semeru di Gunung Sawur juga mencatat sebanyak 50 kali gempa hembusan (pelepasan energi dari perut Gunung Semeru). 35 kali gempa tremor. Seismik juga mencatat 1 kali genpa tektonik jauh, yang bisa terjadi lebih dari 100 KM dari alat sensor yang dipasang.
"Tektonik jauh itu sumber gempanya terjadi bisa di luar negeri atau daerah lain," tuturnya.
Secara manual, pagi tadi, tim pantau melihat terjadi awan panas guguran dari lidah lava Gunung Semeru 100 meter dari puncak kawah hingga meluncur sekitar 4.000 meter.
Awan panas guguran itu tidak menimbulkan dampak pada kehidupan manusia di sekitar gunung, karena jaraknya perkampungan masih jauh atau sekitar 11 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
"Dampaknya mungkin pada tumbuhan yang mengalami kekeringan. Untuk dampak terhadap manusia, tidak ada, karena lokasinya masih jauh. Dan masyarakat juga sudah tahu kalau status Semeru ini waspada," jelasnya.
(bdh/bdh)










































