Kemalangan janda asal Kelurahan Tambakan, Kecamatan Gading Rejo, Kota Pasuruan didapatnya setelah menonton konser dangdut.
Karena rasa malu dan trauma, perempuan cantik yang baru dicerai suaminya ini tak mampu melaporkan apa yang dialaminya ke polisi. Sebelum akhirnya salah seorang keluarganya yang tidak tahan melihat kondisinya yang trauma melaporkan pemerkosaan itu ke Polresta Pasuruan.
"Kasus ini terungkap setelah salah seorang keluarga melapor. Awalnya, korban tak mau melaporkannya karena trauma dan malu," kata Kasat Reskrim Polresta Pasuruan, AKP Ponasit kepada detiksurabaya.com di ruang kerjanya, Selasa (26/10/2010).
Setelah mendapat laporan, polisi langsung melakukan penyelidikan. Polisi pun berhasil menangkap satu pelaku perkosaan. Pelaku itu adalah Munir (32) warga Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan di rumahnya.
Delapan tersangka lainya masih dalam pengejaran. Mereka kabur karena sudah tahu sedang diburu polisi. "Beberapa tersangka ada yang kabur ke luar kota," tuturnya.
Informasi yang dihimpun, perbuatan amoral sembilan pelaku itu terjadi pada Sabtu (7/8/2010). Saat itu Melati bersama temannya, SM (15) pulang ke rumah setelah nonton orkes dangdut.
Saat pulang ke rumah, keduanya tiba-tiba dihadang lima pria mabuk yang kemudian menyeret mereka ke sebuah gubuk di dekat tambak di Kelurahan Tambakan, Kecamatan Gading Rejo, Kota Pasuruan.
Kinanti disetubuhi lima pria itu bergantian hingga tidakberdaya. Setelah menyetubuhi Melati, lima pemuda itu mamanggil empat temannya untuk ikut ‘menikmati’ tubuh Kinanti yang tergolek lemas.
Empat pria itu adalah Munir yang mengaku sebgai orang terakhir yang memperkosa Melati. "Teman korban berhasi kabur. Kalau tidak ia pasti akan mengalami nasib serupa dengan korban," tutur Ponasit.
Sementara itu salah satu pelaku yang tertangkap, Munir mengakui kalau ia melakukanya karena ajakan teman-temannya. Meski janda, tubuh molek Kinanti kata dia mampu menggugah nafsunya. Bahkan, ia pun sempat memberi uang kepada teman-temannya sebagai imbalan mengajaknya dalam ‘pesta’ tersebut.
"Setelah selesai, saya kasih mereka uang Rp 100 ribu," ungkapnya dengan nada tanpa rasa bersalah.
(wln/wln)










































