Pada masa itu kerajaan Mataram Islam tengah mengembangkan wilayahnya hingga mencakup daerah Jawa Tengah serta Jawa Timur.
Karena itu penataan struktur bangunan hampir sama dengan kompleks bangunan raja di Jogyakarta. Yakni pembangunan pendopo, disertai alun-alun serta masjid agung di depannya, tak lepas juga pasar menjadi sarana perekonomian dibangun di sebelah selatan dari pendopo.
"Gaya arsitekturnya mirip dengan Mataram Islam, bisa dilihat dari letak pendopo yang berhadapan dengan alun-alun serta masjid dan di bagian selatan berdiri pasar," jelas Dosen Sejarah dari Universitas Negeri Malang, Blasius Suprapta saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Selasa (19/10/2010).
Blasius yang juga ahli arkeologi ini mengungkapkan, gaya bangunan rumah dinas kini telah berubah, karena terjadi banyak renovasi, terutama pada masa kolonial.
Sesuai cirinya, rumah dinas bupati mirip dengan kediaman raja Mataram Islam, mempunyai pringgitan atau ruang menerima tamu di paling depan.
Sementara di sisi kiri dan kanan mempunyai kuping atau telinga semacam bangunan menjorok ke samping. Ruang depan sebagai ruang tamu mempunyai luas cukup besar. Maklum dulunya difungsikan untuk menerima tamu dalam jumlah cukup banyak.
Kuping atau telinga di sisi kanan dan kiri juga diberi kaca dengan ukuran bangunan itu. Bahan kayu jati menjadi penghias di pinggir kaca. Bentuk atap atau
biasa disebut joglo juga mengadopsi gaya rumah raja di Jogyakarta serta Solo. Bangunan itu hampir bergandengan dengan pendopo yang berada di depannya.
"Bangunan keraton dari Mataram Islam ya seperti itu, punyai pringgitan dengan luas cukup besar untuk menerima tamu, hal sama juga terlihat dari miniatur bangunan tersebut," katanya.
Sebelum direnovasi pada masa kolonial, bahan untuk membangun kediaman ini 100 persen dari kayu jati. Bahkan, lantai rumah juga berasal dari kayu mempunyai
kekuatan lebih dari jenis kayu lainnya ini. Kini furniture dari bahan kayu jati itu hanya tersisa di setiap pintu dan jendela didalam ruangan.
"Ruangan di dalamnya juga besar serta tinggi, ada hiasan kaca berada di ujung paling belakang," ungkap Blasius.
Kendati demikian, ciri khas dari bangunan rumah dinas serta pendopo Kabupaten Malang masih bisa dilihat. Dan cagar budaya ini patut dipertahankan. Sementara mengenai aura mistis serta tempat sakral dalam bangunan itu, Blasius juga menuturkan, dalam setiap bangunan Mataram Islam mempunyai ruangan bernama Sentong Tengah.
Ruangan itu khusus dibuat untuk menyimpan benda-benda pusaka. Yang terjadi di kediaman atau rumah dinas bupati Malang ini, kamar dianggap keramat itu berada di Sentong Tengah. "Kamar itu berada di Sentong Tengah, yang berfungsi untuk menyimpan benda pusaka serta tempat bersemedi," tutur Blasius.
(wln/wln)










































