"Sakral karena tempat itu berguna untuk menerima pulung yang artinya wahyu," ujar Pengamat Budaya asal Kota Malang, Wahyu Widayat saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Selasa (19/10/2010).
Secara turun-temurun, kata dia, bupati akan memasuki ruang kamar itu, ketika dirundung masalah serius. Dengan tujuan menerima petunjuk untuk menyelesaikan
masalah tersebut. "Mereka berdzikir, serta bersemedi hingga mendapatkan petunjuk. Itu dilakukan sejak adipati pertama dulu," ungkapnya.
Secara tidak langsung aura mistis menyelimuti kamar berukuran 5x5 meter persegi itu. Hingga tak satupun orang lain selain bupati berani masuk. Meskipun istri bupati sendiri. Jika diurut melalui sejarah, Kabupaten Malang tak lepas dari perkembangan Mataram Islam.
Sebelum zaman kolonial, wilayah Kabupaten Malang dipimpin oleh adipati yang merupakan keturunan dari Pakubuwono atau raja Mataram Islam. Tidak dipungkiri para adipati yang memimpin mempunyai kelebihan supranatural. Dan membawa aura mistik di rumah kediamannya. Selain menjadi tempat istirahat, kediaman atau rumah dinas juga menjadi tempat mendekati diri kepada sang pencipta.
"Para adipati zaman dulu, banyak yang sakti, dan selalu meluangkan waktunya untuk mendekati diri kepada Tuhan dengan jalan bersemedi dan berdzikir, dan tempatnya di kamar itu," tuturnya. (wln/wln)











































