Namun sang bupati, Sujud Pribadi tak mau mengungkap misteri dibalik bangunan besar berarsitektur Belanda itu selama dia berada di rumah tersebut.
"Iya memang ada aura mistisnya sangat kuat, saya tidak pungkiri itu," ujarnya saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Selasa (19/10/2010).
Bapak dua anak ini mengaku sebagai penghuni dari rumah ini, dirinya secara tidak langsung diterima oleh penghuni lain yang lebih dahulu tinggal sebelum dirinya. "Saya kan penghuni di sini, masa penghuni mengganggu penghuni," tuturnya.
Tapi lelaki yang lahir di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, ini takut dianggap musyrik jika mengungkapkan tentang hal gaib di kediamannya. Kendati secara pribadi dirinya mempercayainya. "Nanti dibilang musyrik, sudah-lah jangan diceritakan," katanya.
Dia mengatakan tak satupun dari pegawai ataupun penjaga yang berani tidur di dalam rumah, selain keluarganya. Bahkan, dirinya pernah mengajak mereka untuk tidur di dalam rumah, namun ditolak.
"Mereka (pegawai,red) mengaku takut tidur di sini. Memangnya ada apa kok takut, saya bilang begitu dan mereka menolaknya. Itu sering. Bahkan ada yang ngomong dihantui oleh sosok makhluk halus, jadi mereka takut," ungkap Sujud.
Sujud mengungkapkan sebelum dirinya menempati rumah ini, telah dilakukan renovasi. Dan tak satupun barang tertinggal, semuanya kosong. Namun, seiring dengan dirinya mendiami rumah ini, banyak orang datang untuk memberikan pusaka, diantaranya sebuah tombak yang kini masih disimpannya. Termasuk juga sebuah senjata celurit berukuran besar, masih disimpan Sujud di balik tirai berada di ruang belakang rumah besar itu.
"Ini senjata jenis pancor, yang diberi orang, ya saya taruh di sini selama ini," jelasnya seraya mengambil senjata tajam khas Madura itu. (wln/wln)











































