Kerusakan paling parah menimpa rumah Sugiono (40), di Dusun Sidorejo Desa Gambor,
Kecamatan Singojuruh. Saking dahsyatnya sambaran petir, atap genting rumahnya
nyaris hancur semua. Hanya atap bagian depan rumah yang tersisa. Atap genteng bagian tengah serta dapur, hancur berserakan ke tanah.
Sambaran itu juga mengakibatkan plafon rumah ambrol dan jebol. Sebagian tembok rumah juga terlihat retak, akibat kayu kontruksi utama dari atap rumah bergeser.
"Kami langsung mengungsi ke rumah saudara," jelas Siti Aisyah, istri Sugiono, pada
detiksurabaya.com di rumahnya.
Rumah Sugiono tersebut hancur setelah dua kali tersambar petir. Yang pertama saat
hujan disertai petir dan angin pada, Sabtu (16/10/2010) malam. Namun saat itu,
sambaran petir hanya terasa mengguncang bangunan rumah saja.
Puncaknya, saat hujan turun lagi pada Minggu (17/10/2010) sore. Hujan disertai angin
dan petir itu berlangsungĀ hingga Senin dini hari tadi. Di tengah hujan yang
mengguyur, petir dengan sambaran lebih dahsyat kembali menggelegar.
"Kali ini terasa menghantam bagian atap rumah, hingga kayu kontruksi terdengar
gemeretak," ucap Muhlisin (33), adik Sugiono, yang malam kejadian ada dilokasi.
Sesaat kemudian, air hujan masuk kerumah akibat atap genting berserakan serta plafon
ambrol dan jebol. Malam itu juga Sugiono sekeluarga mengungsi kerumah kerabatnya.
Keesokan paginya kerusakan terlihat lebih parah. Anehnya, sambaran petir yang
biasanya meninggalkan bekas terbakar tidak ditemui.
Di malam yang sama, petir juga merusak rumah Paiman (40), Dusun Kunir Desa Gambor, Kecamatan Singojuruh. Beton tiang penyangga teras rumah pecah setelah dihantam petir. Namun tidak sampai membuat rumah rusak.
(bdh/bdh)











































