Sepak terjangnya dalam aksi kejahatan disebutkan Agus Widodo sebagai pelarian atas obsesinya yang gagal tergabung dalam pendidikan kepolisian di Secaba (Sekolah Calon Bintara) Reguler.
Ia menyatakan, sempat 3 kali ikut mendaftar pendidikan Secaba di Polda Nusa Tenggara Barat. Agus Widodo yang mengaku lulus SMA tahun 1986, ikut mendaftar Secaba Reguler. Tahun 1988, dia ikut lagi tapi tidak diterima.
"Setahun kemudian saya ikut lagi dan ditolak. Terakhir, saya mendaftar tahun 1991 dan kembali tidak diterima. Makanya saya akhirnya kerja swasta dan kemudian kenal dengan komplotan Sohib ini," ungkap Agus Widodo kepada penyidik di Mapolres Lumajang, Senin (18/10/2010).
Agus mengatakan dirinya di komplotan perampokan berperan sebagai joki motor. "Saya terpaksa bergabung dengan komplotan Mukid dan Sohip ini karena diancam Pak. Kalau saya tidak mau ikut, katanya keluarga saya akan dicelakai," tuturnya.
Agus Widodo mengaku baru mengenal dengan buronan bernama Napi dan Amron yang kini buron. "Kalau Mukid, saya kenal sejak SMA Pak. Ia teman main saja," ujarnya.
Agus mengaku selama pelarian dia sembunyi di Lombok. Tapi lebaran dia pulang ke kampung halamannya di Jember. "Saya kabur ke Lombok selama sebulan. Di sana, saya tidak bekerja apa-apa sampai akhirnya mondar-mandir terus di Jember. Bahkan, saya sempat pulang saat lebaran, saya sempat menemui ibu untuk meminta maaf," jelasnya.
Agus salah satu pelaku perampokan toko emas Semar di Pasar Kunir, Desa Kunir Lor, Kecamatan Kunir. Agus Widodo sempat kabur setelah terlibat baku tembak dengan polisi di Jalanan Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto yang menyebabkan dua temannya tewas, yakni Mukid dan Sohib. Keduanya asal Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul, Jember. Ia tertangkap Polda Jatim dalam penyergapan di Hotel Palem, Bondowoso.
"Untuk proses hukum selanjutnya, tersangka dilimpahkan oleh aparat Polda Jatim ke Polres Lumajang," tandas Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Kusmindar.
(wln/wln)










































