Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com menyebutkan, 3 rumah ambruk masing-masing milik Gatot Sunardi, seorang pensiunan polisi berusia 58 tahun, Samaji, anggota Polsek Gampengrejo, dan Suheran, seorang kontraktor. Dari 3 rumah itu, kerusakan paling parah terjadi di rumah Gatot, seluruh kanopi dan sebagian dinding penyangga kuda-kuda dan genting rontok disapu angin kencang.
"Kalau rumahnya Pak Suheran rusaknya karena tertimpa dinding dari rumahnya Pak Samaji, yang kebetulan memang pasangan bata baru," ungkap Gatot kepada detiksurabaya.com di rumahnya, Kamis (30/9/2010).
Akibat dari kejadian tersebut, sebagian besar perabot rumah milik Gatot basah terkena air hujan yang masuk ke dalam rumah. Sedangkan untuk nilai kerugian, ditaksir mencapai Rp 50 juta. "Kalau membangun lagi ya perkiraan harus sedia uang Rp 50 juta sekarang material kan mahal," tutur Gatot.
Meski mengalami kerugian materi yang cukup besar, Gatot mengaku masih beruntung tak satupun anggota keluarganya yang terluka. Terlebih hujan disertai angin yang merusak rumahnya, diakuinya sebagai kejadian mengerikan yang pernah dilihatnya.
"Seperti tidak lazim hujannya. Seumur-umur ya sekali ini ada hujan dan angin seperti tadi," ujarnya.
Sementara untuk pohon tumbang, berdasarkan pantauan detiksurabaya.com terjadi merata di sejumlah wilayah. Diantaranya di Jalan Inspeksi Brantas yang berada tepat di sebelah Sungai Brantas, dimana lebih dari 30 pohon bertumbangan. Kondisi yang nyaris sama juga terjadi di Desa Doko dan Gampengrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.
Sementara di Desa/Kecamatan Gurah, pohon tumbang bahkan mengakibatkan jatuhnya korban luka, yaitu pengguna jalan yang tertimpa. Meski demikian dari 2 orang yang terluka tak sampai dilarikan ke rumah sakit.
"Lukanya hanya gores di tangan, dan mungkin terkena pohon ambruk. Tadi cuma istirahat sebentar dan diberi obat merah terus orangnya jalan lagi," ungkap Sukarno, salah seorang warga.
(wln/wln)










































