Kericuhan yang terjadi dalam proses penggusuran lahan tol Kertosono-Mojokerto ini, tak terbendung saat warga melihat sejumlah alat berat sedang menggusur lahan persawahan mereka. Tanpa terkordinasi, warga langsung membawa pentungan dan menyerang para pengemudi mesin berat yang sedang melakukan eksekusi.
Bahkan beberapa alat berat yang tidak mau berhenti beroperasi, sempat menjadi sasaran puluhan warga. "Ayo berhenti, kalau kamu tidak berhenti, kami bunuh," teriak salah satu warga saat mendekati alat berat, Kamis (23/09/2010).
Selain memaksa alat berat berhenti, warga juga sempat melemparkan beberapa tanah dan batu kearah pengemudi eskavator. Praktis atas kejadian itu, beberapa pengemudi sempat melarikan diri sembari meninggalkan mesin eskavator.
Meski begitu, kericuhan tidak menimbulkan korban jiwa. Beberapa petugas brimob yang diterjunkan ke lokasi meminta petugas eksekusi berhenti mengoperasikan alat
berat. "Sudah berhenti saja, daripada kena sasaran warga. Dan kalian warga saya harap kembali ke tempat masing-masing," tegas Wakapolres Jombang, Kompol Deden Supriatna Imhar, saat berada di lokasi.
Namun karena amarah warga masih tetap berlanjut dan susah ditenangkan, beberapa ibu-ibu sempat telajang dada dengan meghadang mesin eskavator. Seorang ibu bernama Mbok Darmi (60) menelanjangi dadanya saat beberapa petugas brimob menenangkan warga.
"Ayo, gusur lagi, saya tidak takut, tapi tabrak saya dulu kalau berani," teriak Mbok Darmi sambil membuka baju.
Menurut Mbok Darmi, eksekusi lahan persawahan tersebut tidak sesuai dengan prosedur. Sebab selain belum ada kesepakatan harga, proses pembebasan lahan tol sepanjang 42 Km itu masih dalam tahap sengketa di Pengadilan Negeri Jombang.
"Mau gimana lagi, ganti rugi lahannya murah, masak permeter tanah saya dihargai Rp 65 ribu. Mana cukup?. Tapi kalau pemerintah membeli tanah saya dengan harga Rp 140 ribu atau Rp 200 ribu per meter, baru saya mau digusur," tandasnya sembari
tetap menenteng baju. (fat/fat)










































