Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com menyebutkan, hanyutnya 1 rumah itu terjadi Jumat (17/9/2010) pagi. Meski begitu kejadian ini tidak memakan korban jiwa, karena penghuni rumah sudah mengosongkan rumahnya sejak beberapa hari lalu.
"Modelnyanya itu mengikis, tidak langsung ambrol. Sedikit-sedikit terjadi sejak lebaran ketiga kemarin dan ambrol totalnya itu tadi pagi," kata Ratmi (47), pemilik rumah yang hanyut tergerus arus Sungai Brantas, saat ditemui detiksurabaya.com di lokasi.
Akibat kejadian ini Ratmi bersama suaminya terpaksa harus mengungsi ke rumah
tetangga. Ratmi juga mengaku harus kehilangan sebagian perabotan rumah tangganya, karena ikut hanyut terseret arus sungai.
Ambrolnya bantaran Sungai Brantas ini juga mengancam belasan rumah yang berdiri di sekitarnya. Berdasarkan pantauan detiksurabaya.com, sedikitnya 15 rumah berdiri dan dihuni oleh sekitar 50 jiwa.
"Ya kami terus waspada, karena memang kejadian yang saya alami bisa saja terjadi di rumah tetangga lainnya," kata ungkap Ratmi.
Sementara Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Kediri Kasenan, dikonfirmasi mengaku belum mendapatkan laporan. Menurutnya kawasan bantaran Sungai Brantas bukan menjadi wewenangnya, melainkan Proyek Brantas Tengah yang beroperasi di bawah Pemprov Jatim.
"Kalau laporan belum ada, tapi penanganan ya sedikit-sedikit kami akan ikut
membantu. Secara keseluruhan itu sebenarnya menjadi wewenang (Proyek) Brantas
Tengah, tapi kami juga tidak bisa begitu saja lepas tangan," ujar Kasenan kepada
wartawan yang menemuinya di Balaikota Kediri.
Selain mengakibatkan hanyutnya 1 rumah warga, ambrolnya bantaran Sungai Brantas ini juga dianggap mengancam keberadaan Jembatan Semampir, sebagai salah satu
penyeberangan menuju Kota Kediri bagian barat sungai. Untuk mencegah kemungkinan terburuk ikut tergerusnya jembatan, pemantauan dan penanganan sementara akan segera dilakukan.
"Kalau sampean katakan tadi sekitar 7 meter itu kan dekat dengan jembatan, itu ya
sangat mengancam namanya. Untuk itu kami akan cek dan segera ambil tindakan," tandas Kasenan.
Sementara penyebab ambrolnya bantaran Sungai Brantas, dianggap bukan semata bertambahnya debit dan kekuatan arus. Kasenan justru menuding keberadaan penambangan pasir mekanik sebagai penyebab utamanya.
"Ini dampak jangka panjang yang mulai kelihatan, meski sekarang penambangannya berkurang. Maka dari itu kami minta pihak terkait bisa tegas terhadap operasional penambangan pasir," pungkasnya. (bdh/bdh)










































