"Mboten nate criyos nopo-nopo. Ngertos kulo nggih namung piyambake kerjo (Tidak pernah cerita apa-apa. Yang saya tahu dia kerja)," kata Katiyem (60) ibu korban kepada detiksurabaya.com di sela-sela saat pembongkaran makam, Minggu (5/9/2010).
Di mata keluarga korban dikenal tekun bekerja. Bahkan selama merantau, korban baru beberapa kali pulang kampung. Itupun hanya saat musim lebaran. Keluarga, kata Katiyem justru baru mendengar ihwal raja pati itu setelah mendapat informasi dari kepolisian Sukoharjo. Meski begitu, keluarga mengaku hanya bisa pasrah. Sebab, peristiwanya telah berlangsung lama.
Ia pun menyerahkan sepenuhnya kasus yang menimpa anaknya kepada aparat penegak hukum. "Kulo ikhlas. Sedoyo kulo pasrahaken kaliyan hukum (Saya ikhlas. Semua saya serahkan kepada hukum)," tuturnya.
Informasi yang didapatr, sebelum meninggal dunia, Sri Rusmini bekerja pada seorang majikan di Solo. Putri ke 5 dari 6 bersaudara itu dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa dalam usia 18 tahun. Namun belakangan Yulianto mengaku membunuh Sri Rusmini. Dan Sri adalah korban keenam yang dia bunuh.
(wln/wln)










































