Aksi penggalangan cap jempol darah ini diprakarsai sekelompok pemuda desa setempat,
yang sejak awal memberikan penolakan rencana pembangunan SPPBE di wilayahnya. Dengan menggunakan duri dari salah satu jenis tanaman, warga mengeluarkan darah dari jari jempolnya, untuk selanjutnya dibubuhkan di kain putih sepanjang hampir 5 meter.
"Ini bukti kalau kami serius menolak pembangunan SPPBE ini. Bahkan kami siap
berjuang hingga titik darah penghabisan, seperti tetes darah yang sekarang kami
keluarkan," teriak Suprianto, salah satu koordinator warga di tengah aksi yang
dilakukannya, Kamis (2/9/2010).
Suprianto juga mengatakan, aksi penggalangan cap jempol darah ini rencananya akan
dilakukan selama 3 hari. Media kain putih yang telah dibubuhi cap jempol darah,
selanjutnya akan diserahkan kepada Bupati Tulungagung, Heru Tjahyono.
"Biar bupati mengerti kami serius. Biar dia buka mata, kami tidak main-main dengan penolakan ini," imbuhnya tegas.
Terkait aksi yang dilakukan, warga mengaku ketakutan akan terjadinya ledakan elpiji
sebagai satu-satunya alasan. Meski telah diberikan penjelasan, pembangunan SPPBE
telah dilakukan sesuai standar keamanan, warga menganggap tidak ada jaminan ledakan
bisa dihindari. Untuk aksi yang dilakukan hingga 3 hari kedepan, dimaksudkan agar
cap jempol darah yang terkumpul bisa maksimal, bahkan ditargetkan seluruh warga
Kecamatan Ngunut bisa membubuhkannya.
"Pemerintah jangan lagi mengorbankan masyarakat. Menggunakan saja bisa menjadi
korban ledakan, apalagi kalau stasiun pengisiannya ada disini," urai Prapto, salah
satu koordinator aksi lainnya.
Aksi ini sendiri berlangsung damai sejak dimulai sampai diakhiri sekitar pukul 16.00
WIB. Meski demikian sekitar 100 personel kepolisian disiagakan untuk melakukan
penjagaan.
(bdh/bdh)










































