Setelah hampir satu bulan ini, gadis kelas 2 SMP ini meninggalkan bangku sekolah karena menikah dengan pria berusia 31 tahun.
"Korban telah tinggal dengan kepala desa, dan mulai senin depan sekolah kembali," kata Sekretaris Desa Tambakrejo Febriana Kristanti kepada detiksurabaya.com melalui telepon, Jumat (27/8/2010).
Kemauan keras LD untuk kembali bersekolah menjadi alasan pihak desa membawa LD pulang dari UPPA Polres Malang. Kondisi mental LD sendiri saat ini perlahan
kembali pulih.
"Anaknya ngotot ingin sekolah lagi, makanya senin kita antar untuk bersekolah dan biayanya desa yang menanggung," terang Febriana.
Bungsu dari tiga bersaudara itu telah dipertemukan dengan kedua orang tuanya, sebelum menginjakkan kaki di rumah kepala desa setempat. Dalam pertemuan itu, kata Febriana, kedua orangtua LD terus mengucurkan air mata, setelah putrinya nekat kabur dan memilih melaporkan orang tua kandungnya ke polisi.
"Kedua orangtuanya terus menangis saat saya mengantar LD pulang untuk mengambil seragam sekolah," ujar wanita berkaca mata ini.
Sementara kaburnya suami LD, Mulyadi (31), warga Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, menjadi beban dari Misdi (50) dan Sisminanti (45), kedua orang tua LD. Pihak desa meminta keduanya bertanggungjawab atas raibnya bapak satu anak itu.
"Saya katakan kepada Pak Misdi (ayah kandung LD,red) kaburnya Mulyadi merupakan tanggung jawab dia. Semua masalah ini akan ditanggung dia sendiri," tutur Febriana.
Hingga saat ini, Misdi masih berusaha melacak jejak Mulyadi, untuk diminta datang saat pemeriksaan Senin depan di Polres Malang.
Seperti diberitakan, LD bocah duduk di bangku kelas II SMP dipaksa kedua orangtuanya untuk menikah siri dengan Mulyadi (31) di masjid tiga pekan lalu. Tak kuat dengan nasib yang dialami, LD nekat kabur dan meminta bantuan perangkat desa setempat. Pemerintah desa kemudian melaporkan kasus ini ke polisi.
(wln/wln)










































