Berkah Ramadan, Omzet Pengusaha Cincau Melonjak

Berkah Ramadan, Omzet Pengusaha Cincau Melonjak

- detikNews
Jumat, 27 Agu 2010 10:49 WIB
Berkah Ramadan, Omzet Pengusaha Cincau Melonjak
Sumenep - Bulan Ramadan membawa berkah bagi pengusaha cincau hitam (Cylea Barbata) di Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, Madura. Bila hari biasa omzet salah seorang pengusaha cincau, Suwarni (41) hanya berkisar Rp 1 juta, saat Ramadan tiba mencapai Rp 5 juta - Rp 6 juta.

Tingginya permintaan cincau seiring dengan kebiasaan warga Sumenep saat berbuka puasa yang selalu melengkapi dengan minuman. Cincau menjadi minuman favorit itu dicampur dengan sedikit santan, gula merah dan es, sehingga dinilainya lebih cepat melepaskan dahaga saat berbuka.

Permintaan cincau buatan Suwarni tersebut tidak hanya oleh warga kota, melainkan
dari Kecamatan Batuputih, Batang-Batang, Dongkek, hingga wilayah utara seperti
Kecamatan Pasongsongan dan Rubaru.

Tak ayal, setiap harinya membutuhkan bahan baku cincau mencapai 1,5 kwintal atau
beromzet sekitar Rp 6 juta setiap hari. Pengusaha cincau hitam, Suwarni (41) warga Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, mengaku pembuatan cincau tidak sulit. Hanya bahan bakunya harus mendatangkan dari Solo, Jawa Tengah.

"Pembuatan cincau hanya butuh ketelatenan. Selain memperhatikan kebersihan juga
takaran antara air dengan baku harus seimbang sehingga hasilnya bagus dan sesuai
dengan selera konsumen," kata Suwarni kepada detiksurabaya.com di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, Jumat (27/8/2010).

Dalam proses memproduksi cincau, usaha yang sudah dilakukan secara turun-temurun ini mempekerjakan 10 orang. Mereka dari warga sekitar dan rutin dipekerjakan setiap Ramadan tiba.

Pembuatan cincau yang satu ini dilakukan dengan cara tradisional, yakni bahan baku
terdiri dari sako aren, pohon cincau, soda dan air direbus selama 2 kali menggunakan drum berukuran besar.

Lalu hasil rebusan tersebut, sampahnya dibuang dan tinggal airnya berwarna hitam
kental. Air rebusan cincau yang telah direbus dengan bahan baku lainnya tersebut
dimasukkan dalam kaleng bekas minyak goreng.

"Didinginkan selama 1,5 jam dalam kaleng bekas minyak goreng itu, lalu jadi cincau
hitam dan siap dijual," urainya.

Setiap kaleng bekas minyak goreng, dijual Rp 20 ribu. Dan setiap harinya mampu
memproduksi maksimal 288 kaleng.

(fat/fat)
Berita Terkait