Untuk pelaksanaannya mereka memilih sore hari, sembari menunggu waktu berbuka puasa.
"Kebetulan kalau pagi mereka kami berikan siraman rohani dan mengaji, jadi
longgarnya ya siang sampai sore. Nah daripada mereka ngerumpi yang nggak karuan,
kami inisiatif adakan kegiatan membatik ini," terang Kalapas Kelas II A Kediri
Subiyantoro kepada detiksurabaya.com, Rabu (25/8/2010).
Selain mengisi waktu luang, Subiyantoro menginginkan agar kegiatan membatik bisa
melatih kesabaran para napi. Sehingga bisa mempengaruhi kondisi psikologisnya selama di dalam tahanan dan pasca dibebaskan.
"Membatik kan nggak gampang, butuh ketelitian dan kesabaran yang tinggi. Harapan kami mereka bisa terlatih, sehingga bisa menjadi orang yang lebih bijaksana saat dibebaskan nanti," imbuhnya.
Dalam membatik, belasan napi tidak didampingi tentor, melainkan melakukannya dengan panduan sebuah buku. Meski begitu hasilnya tidak bisa dianggap remeh, karena tak kalah apabila dibandingkan dengan produk batik tulis kasar yang dijual di pasaran.
"Ya hasilnya seperti ini, untuk kelas pemula lumayan lah. Selama ini hasil karya ini ya dipasarkan di kalangan pembina di Lapas, tapi kedepan kami akan usahakan
dikembangkan dan kalau bisa dijadikan bahan dasar seragam pembina dan penghuni," jelas Subiyantoro.
Sementara Ayu Fani (27) asal Bekasi, Jawa Barat, yang menjadi napi dalam kasus penipuan PJTKI, mengaku senang dengan kegiatan membatik. Sebelumnya tak memiliki keahlian, minimal dirinya saat ini bisa mengenal dan bisa melakukan membatik untuk skala kecil.
"Insya Alloh Mas, kalau memang diizinkan pengennya diteruskan saat bebas nanti.
Disini kan latihan dasarnya, mungkin nanti diluar bisa dikembangkan lagi," ungkap
Ayu.
Ayu yang mendapatkan vonis 1 tahun 8 bulan penjara juga senang bisa melakukan kegiatan membatik. "Di sini kalau siang biasanya ya sekedar ngumpul-ngumpul, gak jelas yang dibicarakan. Kalau begini semuanya kan sama-sama sibuk, jadi gak hanya bisa ngerumpi," tandasnya.
(fat/fat)











































