Hafid terjatuh dari sepeda yang dikayuh saat pulang dari sekolah menuju rumahnya. Saat terjatuh, Hafid terluka di bagian lututnya. Oleh warga yang menolong, Hafid dibopong dan dibaringkan di kursi panjang teras rumahnya. Tapi tak satupun anggota keluarga yang menyangka jika Hafid sudah tak bisa melihat lagi.
"Kami terkejut, setelah Hafid mengeluh kepalanya sakit dan matanya hanya bisa melihat warna hitam. Gelap," kata Suyut, kakak sulung Hafid saat ditemui di rumahnya, Senin (23/8/2010).
Kondisi tersebut telah dialami Hafid selama 5 bulan lalu, sejak jatuh dari sepedanya sepulang sekolah. Sejak itu pula, Hafid hanya bisa tergolek di ranjangnya dan terpaksa tidak naik kelas lantaran tak bisa mengerjakan soal tes kenaikan kelas.
Keluarga Hafid bukannya hanya berpangku tangan melihat penderitaan anak bungsu pasangan Mohamad Harik (45) dan Sulastri (40) itu. Sehari setelah terjatuh dari sepeda, Hafid sempat dirawat di Puskesmas Proppo dan kemudian dirujuk ke RSU Pamekasan.
"Hafid sempat opname di rumah sakit selama 15 hari. Namun, semua perawatan medis tak menyembuhkan mata Hafid. Adik saya tetap buta dan tak bisa melihat lagi," terang Suyut memelas.
Saat di rumah sakit, Suyut sempat dipanggil dokter yang merawat Hafid. Dokter itu menyarankan Suyut dan keluarganya agar membawa Hafid ke RSU Dr Soetomo Surabaya. Sebab, Hafid mengalami infeksi selaput otak dan harus menjalani operasi terpadu di Surabaya.
Karena tak memiliki biaya, akhirnya Hafid dibawa pulang dan kini hanya bisa tergolek di atas tempat tidur di rumahnya di Dusun Beringin Laok Desa Jambringin. "Saya masih ingin sekolah," rajuk Hafid kepada Suyut. (fat/fat)










































