Bubble tersebut menyembur dari bekas sumur bor. Material yang dikeluarkan adalah berupa air, pasir dan kandungan gas metan 25 % yang dapat terdeteksi dalam jarak 2 meter.
"Awal menyembur, semburannya hanya setinggi 50 cm," kata salah satu penghuni rumah, Khifah (34), kepada detiksurabaya.com, Sabtu (21/8/2010).
Adanya bubble itu langsung dilaporkan ke Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Oleh BPLS, bubble itu dipasang pipa dan airnya disalurkan ke saluran terdekat. Namun penanganan yang kurang efektif itu membuat pipa jebol akibat kuatnya semburan.
"Pipa itu jebol pada tanggal 20 Agustus pukul 19.30. Saat jebol air terdengar bergemuruh dan muncrat setinggi 14 meter hingga kini," tambah Khifah.
Dengan adanya bubble itu yang berjarak 800 meter dari semburan utama lumpur Lapindo itu, Khifah, mengaku takut dan tak lagi menempati rumah tersebut. Khifah khawatir bila sewaktu-waktu semburan itu semakin terus membesar. Khifah pun terpaksa menumpang di rumah tetangga.
Bubble yang terus menyembur itu ternyata dikeluhkan oleh warga sekitar. Pasalnya, air yang terus keluar tak mmapu ditampung oleh saluran air yang akhirnya membanjiri pekarangan warga
"Kami takut semburan itu semakin membesar seperti semburan utama," kata salah satu warga, Hadi Kalsum.
(bdh/bdh)











































