Dalam bedah buku yang juga dihadiri sejumlah orang dari Lamongan itu, Noor Huda Ismail menyatakan kedatangannya di Porong ini atas permintaan narapidana kasus Ambon yang ditahan. Mereka ingin mengetahui isi buku yang ditulis dengan gaya novel tersebut. "Jadi bukan saya yang ingin datang. Bukunya sendiri sudah saya kirimkan 2 minggu lalu," kata mantan wartawan Washington Post ini dalam bincang-bincang dengan detiksurabaya.com.
Para narapidana yang ikut menunjukkan berbagai reaksi bahkan ada yang menentang karena dianggap menyesatkan karena mereka membaca kata pengantar yang ditulis tokoh pluralisme, A Syafi'i Maarif. "Ada yang seneng, ada yang terharu dan menangis segala. Tapi kemudian kita saling berangkulan," kata alumni Ngruki ini.
Menurut Noor Huda yang pernah tinggal satu kamar dengan pelaku Bom Bali I, Mubarrok, menyatakan bahwa penanganan pelaku terorisme kurang menyentuh akar persoalannya. Dengan buku yang ditulisnya, Noor Huda berharap, bahwa ke depannya perlawanan atau jihad dengan kekerasan harus kembali direnungkan. Sebab dampaknya cukup besar termasuk kepada keluarga korban maupun pelakunya.
"Mereka kan selama ini tidak pernah diajak dialog, sebenarnya apa yang mereka inginkan. Mereka bergerak karena dendam, bukan ideologi. Kriminal murni," kata dia. Buku setebal 300 halaman itu digarap selama 1 tahun dengan obyek utama keluarga Mubarrok. "Semua royalti buku ini saya sumbangkan untuk anak korban bom Bali I, Aldi dan Alif yang menjadi yatim," ungkap dia.
Salah seorang narapidana setelah dituding terlibat terorisme di Ambon, Syamsudin alias Fatur yang mengaku sudah membaca buku menyimpulkan bahwa alumni dari Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki bukanlah teroris. "Tidak semua lulusan dari pondok pesantren Al-Mukmin Ngruki adalah teroris," katanya.
Ia mengatakan, saat ini di Tanah Air, hukum cukup membingungkan dan keadilan belum bisa dirasakan. Pelaku kerusuhan bisa didakwa dengan UU Terorisme. "Buktinya saya ini. Saya terlibat kerusuhan di Ambon malah divonis undang-undang teroris, kan sama sekali tidak ada hubungannya," tandasnya. (gik/fat)











































