Akibatnya saban hari ratusan truk pengangkut pasir hilir mudik melalui jalanan desa setempat, ini mengakibatkan kerusakan parah di jalan desa. Jalan yang semula beraspal hotmik, kini hancur berantakan di sana sini berlobang. Upaya warga menutup jalan dengan batu dan tanah kembali rusak setelah dilalui truk sarat muatan pasir. Sepanjang 3 KM jalanan desa di beberapa titik yang rusak berat ditanami pohon pisang.
Pantauan detiksurabaya.com di lokasi menyebutkan, penanaman pohon pisang dilakukan karena warga sudah tidak mampu menahan marah. Bahkan akibat kecewa berat karena serangkaian laporannya ke polisi di Polsek Rengel maupun Polres Tuban tak ditanggapi. Bahkan laporan ke Pemkab Tuban juga tak ada tanggapan. Padahal desa ini merupakan desa kelahiran Wabup Tuban Lilik Suharjono.
"Kami melakukan protes karena laporan kami tidak ditanggapi pemerintah. Polisi dan pemda sama saja, ada penambangan pasir tidak berijin ya dibiarkan saja beroperasi," tegas Supri, warga setempat yang ditemui wartawan di Desa Prambon Wetan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Sabtu (15/8/2010).
Sementara penambangan pasir berada di wilayah Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Tuban. Namun untuk memasuki lokasi tambang pasir di Sungai Bengawan Solo itu haris melalui tanggul di Desa Prambon Wetan. Setelah truk masuk lokasi tambang pasir yang menggunakan penyedot pasir mesin desel, truk kembali keluar bengawan melintas Desa Prambon Wetan.
Truk tersebut melintas Prambon Wetan menuju ke arah timur menuju wilayah Desa Widang, Kecamatan Widang, Tuban. Jalanan sepanjang 10 Km itu truk harus melewati sejumlah desa. Diantaranya Desa Prambon Wetan, Desa Kedungrojo, Sembungrejo, Desa Klotok, semuanya di wilayah Kecamatan Plumpang hingga masuk ke Desa Widang, Kecamatan Widang, Tuban.
(fat/fat)











































