Hadirnya para PSK di siang bolong itu, menyita perhatian pengguna jalan di dua ruas jalan. Apalagi dandanan wanita PSK itu sangat mencolok. Selain tak seperti warga wanita Pamekasan yang mengenakan jilbab, para PSK itu saling berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dialek Suroboyoan.
"Mestinya razia PSK yang nongkrong di lokalisasi liar berupa warung kopi di selatan Pasar Malam itu tak hanya sekali menjelang puasa lalu. Tapi razia harus rutin setiap hari. Utamanya di siang hari," sesal Ny, Hastutik, warga Jalan Kemayoran Gg 1, Jumat (13/8/2010).
Ibu rumah tangga yang juga mengajar di sebuah sekolah menengah negeri ini menyerukan agar pembersihan praktek asusila di Kota Gerbang Salam Pamekasan, tak hanya dilancarkan aparat Satpol PP saja.
"Mestinya, polisi dan polisi militer harus ikut bergerak menertibkan dan merazia para PSK itu. Sebab, ada dugaan oknum tentara menjadi centeng warung remang-remang itu," sambung Hastutik.
Dari pengamatan detiksurabaya.com menunjukkan, setidaknya ada 5 warung kopi yang membuka dagangan. Tanpa dilengkapi tirai penutup, konsumen tampak santai merokok sembari minum kopi.
Setiap warkop, 2 sampai 3 orang wanita berbedak tebal dan bergincu merah tampak ikut memeriahkan obrolan mereka. Di celah jari para wanita berbusana tanpa lengan itu terselip sebatang rokok.
"Suasana warkop itu mirip lokalisasi," celetuk Nuning, pemilik lapak busana di Pasar Malam Sadangdang.
Secara terpisah Plt Kakansospol Pemkab Pamekasan, Khusairi mengatakan, pihaknya akan menggandeng anggota Binamitra Polres Pamekasan. "Kapan hari H-nya, itu rahasia kami," ujar mantan Sekretaris Kantor Arsip Pamekasan itu.
(fat/fat)










































