Indra menceritakan, saat itu baru saja jam pelajaran matematika dimulai. RI, guru
matematika, menulis materi pelajaran di papan tulis kelas. Sebelumnya, RI memerintahkan peserta didiknya untuk mencatat ulang materinya di buku masing-masing.
Setelah mengambil buku, anak pasangan dari Misijo (50) dan Ineng (48), langsung melakukan apa yang diperintahkan sang guru. Namun tiba-tiba saja dia diganggu oleh AG, rekan sekelasnya.
"Buku saya dicoret-coret, habis itu saya misuh (mengumpat) karena terus diganggu," terang Indra saat ditemui di rumahnya, Dusun Simbar Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Selasa (3/8/2010).
Umpatan itu akhirnya disampaikan AG ke RI yang sibuk mencatat di papan tulis. Jauh-jauh hari sebelumnya, RI membuat kesepakatan dengan ke 21 siswa kelas 3.
Kesepakatan berupa hukuman bagi siswa yang mengumpat di dalam kelas akan ditampar oleh temannya sekelas.
Namun RI saat dikonfirmasi mengaku kesepakatan itu awalnya hanya untuk menakut-nakuti siswa agar tidak berkata kasar. "Cuma untuk menakut-nakuti saja, tidak ada tujuan lain," jelas RI, saat ditemui di kantornya.
RI juga tidak menampik jika saat pengeroyokan terjadi dirinya berada di tempat. Pembiaran itu dilakukan karena dia yakin para siswa tidak akan memukul Indra dengan keras. Sebab, sebelum hukuman dilaksanakan RI berpesan ke para siswanya.
"Saya awasi saat hukuman itu berlangsung, mereka juga saya ingatkan agar tidak
kencang-kencang (memukul)," tambah RI.
Setelah hukuman usai, RI mengaku bersalah. Selang sehari setelah kejadian, dia
berupaya mendatangi Indra di rumahnya dan meminta maaf serta mengaku akan bertanggungjawab.
"Saya mengaku salah, saya akan bertanggung jawab. Saya berpesan jangan
dibesar-besarkan masalah ini," tegasnya.
(fat/fat)










































